Nostalgia Buku: “Bermain Dengan Pengetahuan”

Ini adalah pengalaman saya ketika duduk di bangku SMP. Ketika masih duduk di bangku SMP saya tergolong siswa yang gemar meminjam buku di perpustakaan. Setiap istirahat saya sempatkan berkunjung ke perpustakaan, kemudian meminjam beberapa buku untuk dibaca di rumah.

Ada beberapa buku perpustakaan yang menjadi favorit saya kala itu. Saking favoritnya, saya sering meminjam buku-buku tersebut lebih dari sekali untuk dibaca ulang di rumah. Dan salah satu yang menjadi favorit saya adalah sebuah buku berjudul Bermain Dengan Pengetahuan yang diterbitkan oleh Penerbit Angkasa Bandung bekerja sama dengan Otto Maier Verlag Ravensburg. Buku aslinya berjudul Spiel-das Wissen schafft karangan Dr. Thomas von Randow.

spiel-das-wissen-schafft
Sampul asli buku Bermain Dengan Pengetahuan. (Foto: http://ricardo.ch)

Buku Bermain Dengan Pengetahuan tersebut terdiri atas 3 jilid dan setiap buku berisi 200 halaman berisi eksperimen-eksperimen sederhana yang menerapkan pengetahuan kimia, fisika, serta teknik yang dapat kita ikuti dengan alat dan bahan yang mudah kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu bentuk eksperimen dalam buku tersebut berjudul Sabun Sebagai Bahan Penggerak. Dalam eksperimen tersebut diinstruksikan untuk membelah ujung bawah batang korek api, kemudian menyisipkan sabun lunak pada celah tersebut. Bila batang korek api tersebut diletakkan pada baskom yang berisi air, maka selama beberapa waktu batang korek api tersebut akan bergerak.

Penjelasannya sebagai berikut. Sabun yang lambat laun larut, akan merusak tekanan permukaan air sedikit demi sedikit. Terjadilah gerakan molekul zat cair ke belakang (mundur), dan sebagai reaksinya mengakibatkan gerak maju batang korek api tersebut. Dengan setetes sabun cuci cair sebagai pengganti sabun lunak, gerakan itu akan berlangsung sangat cepat.

Itulah sedikit bentuk permainan dan eksperimen dalam buku Bermain Dengan Pengetahuan yang sebagian besar sudah saya praktikkan dulu sewaktu masih di bangku SMP. Kejadian-kejadian sederhana berkaitan dengan hukum fisika, kimia, maupun teknik ada baiknya diketahui oleh anak-anak usia SD maupun SMP, dan buku tersebut layak menjadi buku pendamping bagi siswa-siswa SD/SMP dalam memahami fisika, kimia, atau teknik. (Arie Kurniawan)

Data buku
Judul asli: Spiel-das Wissen schafft
Pengarang: Thomas von Randow
Penerbit: Angkasa Bandung (1984)
ISBN: 979-404-817-8

Advertisements

Berita Unik Wonogiri: Sepeda Motor Tertukar di Parkiran

SUNGGUH beragam pengalaman pemotor di Indonesia, dari pengalaman yang tidak mengenakkan sampai pengalaman lucu. Nah, baru-baru ini di Kabupaten Wonogiri ada kejadian lucu, di mana dua orang pemotor tertukar motor saat di parkiran.

Seperti dilansir Timlo.Net, kejadian berawal saat Indiarti (38), warga Dusun Jajar, Desa Tanjung, Bulukerto, Wonogiri, bersama anak perempuannya keluar dari area Pasar Slogohimo, Minggu (9/9) pagi. Saat hendak mengambil motor, ia mendapati sepeda motor Honda Beat miliknya, AD 5411 MI sudah tidak berada di tempat semula. Namun di sebelahnya, terparkir sepeda motor yang sama dengan miliknya, hanya saja dengan plat nomor berbeda, yaitu AD 5578 TI. Akhirnya Indiarti pun melaporkan kejadian tersebut di Polsek setempat.

Kapolres Wonogiri AKBP Robertho Pardede melalui Kapolsek Slogohimo, AKP Kasimin didampingi Kanitreskrim Bripka Sargito, Selasa (11/9) mengungkapkan, “Setelah menerima laporan, langsung kita koordinasikan. Termasuk meminta juru parkir setempat memposting foto sepeda motor yang tertukar tersebut di media sosial”. Meski begitu pihaknya juga berupaya melacak keberadaan sepeda motor milik Indarti dan juga pemilik sepeda motor yang tertinggal di area parkir tersebut.

tertukar.jpg
Dua sepeda motor yang tertukar beserta pemiliknya. (Foto: Timlo.Net)

“Lalu tadi (11/9) sekitar pukul 11.00 WIB ada seorang pria bernama Dwi Susanto warga Waru, Slogohimo datang ke kantor mengaku sepeda motornya tertukar. Selanjutnya Indarti kita datangkan dan semua kita klarifikasi dan benar jika motor mereka tertukar,” jelasnya.

Dwi Susanto pun membeberkan awal mula kejadian lucu tersebut. Dia tak menyangka motor Honda Beat warna merah yang ia kendarai sejak Minggu (9/9) tertukar dengan motor milik orang lain. Dia baru sadar saat sepeda motor tersebut kehabisan bahan bakar, dan ia kesulitan saat hendak membuka jok motor. Hehe, ada-saja saja. (Arie Kurniawan)

Makna 1 Suro bagi Orang Jawa

Kirab 1 Suro adalah agenda tahunan yang dilaksanakan oleh Keraton Kasunanan, juga Mangkunegaran di Kota Solo pada malam pergantian tahun Jawa. Di malam tersebut, pusaka-pusaka milik keraton dikirab mengelilingi tembok keraton.

Pada tahun 931 Hijriyah atau 1443 Tahun Jawa Baru, yaitu pada zaman pemerintahan Kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hijriyah dengan sistem kalender Jawa pada waktu itu. Waktu itu, Sultan Agung menginginkan persatuan rakyatnya untuk menggempur Belanda di Batavia, termasuk ingin “menyatukan Pulau Jawa”. Oleh karena itu, beliau ingin rakyatnya tidak terbelah, apalagi disebabkan karena perbedaan keyakinan agama. Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin menyatukan kelompok santri dan abangan, maka pada setiap hari Jumat Legi, dilakukan laporan pemerintahan setempat sambil dilakukan pengajian yang dilakukan oleh para penghulu kabupaten, sekaligus dilakukan ziarah kubur dan haul ke makam Sunan Ngampel dan Sunan Giri. Akibatnya, 1 Muharram (1 Suro) yang dimulai pada hari Jumat Legi ikut-ikut dikeramatkan pula, bahkan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut di luar kepentingan mengaji, ziarah, dan haul.

Satu Suro menurut orang Jawa menandai bergantinya naga dina dan naga tahun, yakni berubahnya sifat dan karakter kosmis (berserta dunia gaib) yang secara langsung diyakini mempengaruhi kehidupan manusia di bumi. Orang Jawa melengkapi ritual kehidupan tersebut sebagai wujud syukur kepada Sang Maha Tinitah, yang diyakini sebagai Dzat Suci yang memberi hidup dan menghidupi. Oleh sebab itu, pergantian tahun adalah terjadinya pergantian kosmis, yang disebut sebagai siklus Cakramanggilingan. Kehidupan diasumsikan berputar silih berganti seperti berputarnya roda. Ada saat zaman keemasan (age d’or), ada saat juga zaman mengalami masa kegelapan/kalabendu (age d’sombre). Di zaman yang bergulir itulah manusia harus selalu eling (ingat) dan waspada (waspada).

kirab.jpg
Kirab Pusaka Malam 1 Suro oleh Keraton Kasunanan Surakarta. (Foto: http://rimanews.com)

Sebagai rasa tanggung jawab kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya, yang telah memberikan kuasa kepadanya, maka Raja pun melakukan kirab untuk menjenguk setiap sudut rumah warga. Dengan harapan, tuah dan berkahnya dapat memasuki setiap pintu rumah-rumah penduduk.

Raja beserta pusaka-pusakanya adalah manifestasi yang sama untuk mempromosikan dan menjelaskan secara simbolik antara raja dengan masyarakatnya. Di sisi lain ini adalah bentuk pengaplikasian Rukun Jawa yang kelima, yaitu laku. Rukun Jawa antara lain rukun, hormat, halus, asih, dan laku. Rukun yang terakhir itulah yang dijalankan oleh orang Jawa, yaitu berjalan mengelilingi keraton sebanyak tujuh kali. Di setiap pojok keraton diiringi dengan mengucapkan puja dan puji syukur, disertai dengan permohonan-permohonan.

Malam 1 Suro adalah salah satu wujud hubungan antara manusia dengan Khaliknya dalam upaya mencari keseimbangan dan keserasian hidup dengan penuh harap di tahun mendatang, untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Semoga. (Arie Kurniawan)

Pecas Ndahe Siap Gelar Pentas Ultah Ke-25

DUA puluh lima tahun sudah kelompok musik humor Pecas Ndahe mewarnai scene musik, terutama humor, di Kota Solo pada khususnya dan Pulau Jawa pada umumnya. Berbicara mengenai kelompok ini, ingatan saya selalu saja kembali ke masa-masa saya SMP dahulu, masa di mana kata banyak psikolog adalah masa pencarian jati diri bagi seorang individu, pun juga saya kala itu. Dan Pecah Ndahe adalah salah satu item berpengaruh dalam pembentukan karakter saya saat itu. Bagaimana tidak, Pecas Ndahe cukup populer di lingkungan sekolah saya dulu, bahkan saya ingat salah seorang guru saya di SMP dulu di motornya sempat tertempel juga stiker logo Pecas Ndahe. Ini bukti bahwa Pecas Ndahe sudah ‘meracuni’ kami para remaja yang tumbuh di Kota Solo pada era itu.

Awal Kisah

Pecas Ndahe adalah generasi kedua dari Suku Apakah, sebuah kelompok musik humor yang lebih dulu eksis, yaitu sekitar akhir 80-an di lingkungan Jurusan Seni Rupa, Fakultas Sastra, UNS Solo. Bisa dibilang Pecas Ndahe (kala itu bernama Suku Apakah Junior) adalah regenerasi dari Suku Apakah. Suku Apakah Junior kala itu digawangi oleh Wisik, Nurul, Edy, Firman Gondhes dan beberapa teman lainnya. Kehadiran Suku Apakah Junior saat itu langsung disambut publik dengan dipercayainya mereka mengisi sebuah acara di Radio SAS FM, Solo Baru. Kesempatan ini membuat mereka makin dikenal publik, tak hanya lingkungan kampus UNS.

Di tengah melambungnya kedua nama Suku Apakah, baik senior maupun junior, timbullah konflik yang konon disebabkan ketidaksetujuan Suku Apakah Senior ada embel-embel nama junior pada Suku Apakah dan meminta sang junior untuk membubarkan diri. Akhirnya pada 1993 mereka tidak membubarkan diri namun mengubah nama dengan nama yang baru, yaitu Pecas Ndahe.

Pecas Ndahe di awal terbentuk mempunyai 11 personil, yaitu Nurul (gitar), Wisik (vokal), Wahyu (bas betot), Pras (gitar ritem), Azis (perkusi), Firman Gondhes (vokal, biola), BJ (cuk), Edy Dangdut (cak), Ndaru (vokal), Emil (joker), dan Burhan (joker).

Nama Pecas Ndahe muncul dari ungkapan kekesalan mereka saat mencari nama baru. “Mikir jeneng wae nganti pecas ndahe.” (Memikirkan nama saja sampai pecah kepalanya). Pecas ndahe adalah plesetan kata pecah ndase, yang artinya pecah kepalanya. Sebuah nama yang mudah diingat, unik, dan tentu saja abadi.

Perjalanan selama 25 tahun tentunya tidak dilalui dengan baik-baik saja. Pahit getir dan asam manis, saya percaya sudah dilalui oleh kelompok ini. Pergantian personil juga terpaksa dirasakan oleh Pecas Ndahe sebagai konsekuensi dari eksistensi mereka. Bahkan pada tanggal 1 Juni 2013 silam, Pecas Ndahe harus menerima kenyataan pahit, yang mana salah seorang joker handal mereka, Pakdhe Emil, berpulang menghadap Sang Kuasa karena sakit. Hal ini menjadi pukulan bagi seluruh personil Pecas Ndahe saat itu. Namun, bukan Pecas Ndahe namanya bila terus larut dalam kesedihan, terbukti dengan segala upaya dan tetap terbuka dengan segala masukan, kelompok ini masih tetap eksis hingga detik ini. Tentunya dukungan dari para Ndaser (sebutan untuk penggemar Pecas Ndahe) juga tak bisa kita pandang sebelah mata. Dan saya rasa, inilah aset terbesar Pecas Ndahe, yaitu memiliki ribuan bahkan jutaan fans militan yang lazim disebut Ndaser.

Pentas Ultah Ke-25

Bagi Pecas Ndahe, pentas ulang tahun merupakan ajang untuk bersilaturahim bersama para Ndaser ataupun orang-orang yang pernah menjadi bagian dari Pecas Ndahe, maka tak jarang bila akan kita temui personil-personil lama yang juga turut hadir dalam pentas ulang tahun Pecas Ndahe.

Beragam tema telah diangkat kelompok ini dalam setiap pentas ultahnya. Isu-isu sosial yang sedang menjadi buah bibir di masyarakat pun selalu tersentuh oleh ide-ide kreatif mereka untuk diparodikan. Di tahun 2018 ini, Pecas Ndahe akan menggelar pentas ultah ke-25 tahun yang akan digelar di Pendopo TBS Surakarta pada 14 September mendatang. Info lengkapnya bisa disimak pada foto terlampir di bawah. Dan akhirnya, wedang jahe campur so’on, Pecas Ndahe selamat ulang taon! (Arie Kurniawan)

39928574_2185627035055177_689998975392414197_n.jpg
Flyer digital ultah Pecas Ndahe. (Foto: Instagram Pecas Ndahe Solo)

Pengalaman Pajak Motor di Gerai Samsat Online Wonogiri

PADA posting bulan Februari kemarin, saya telah membahas mengenai dibukanya Gerai Samsat Online Wonogiri yang bertempat di Toserba Baru, Wonogiri. Nah, bulan Juli kemarin saya berkesempatan mencoba langsung layanan Samsat Online tersebut. Mengingat jam operasional Gerai Samsat Online ini buka sampai malam, maka saya pun meluncur ke Toserba Baru selepas magrib dari rumah.

37254883_836908013172678_7062601727135973376_n.jpg
Gerai Samsat Online di Toserba Baru, Wonogiri. (Foto: Dok. pribadi)

Letak Gerai Samsat Online ini berada di lobi bagian barat di lantai 1 toserba tersebut. Saat saya datang sekitar jam 18.30-an, kondisi gerai Samsat sedang sepi, hanya ada dua petugas yang masih terus berjaga. Setelah saya menyerahkan KTP asli dan STNK asli sebagai persyaratannya, saya kemudian membayar besaran pajak pada petugas satunya, sepertinya memang sebagai kasir. Tak butuh waktu lama untuk proses ini, bahkan lima menit saja tidak sampai. Mudah bukan?

Jam operasional Gerai Samsat Online di Toserba Baru, Wonogiri ini adalah jam 11.00–14.00 WIB dan 16.00–19.00 WIB untuk hari Senin–Jumat, sedangkan untuk hari Sabtu dan Minggu buka jam 12.00–20.00 WIB. Hal ini tentu untuk memudahkan para wajib pajak dalam membayar pajak tanpa harus meninggalkan pekerjaan di siang harinya. Semoga bermanfaat. (Arie Kurniawan)

%d bloggers like this: