Numpang Makan di Ayam Goreng Bu Toha, Tuntang

PERJALANAN dinas bersama rekan-rekan kerja ke Semarang, Senin (6/10) lalu, membawa kami singgah di warung makan ayam goreng Bu Toha Tuntang, yaitu sekitar 45 kilometer ke arah selatan Kota Semarang. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB saat kami tiba di warung berbangunan sederhana tersebut. Bangunan warungnya memang cukup sederhana, namun yang membuat warung tersebut terasa spesial adalah lahan parkirnya yang tak begitu luas cukup didominasi oleh kendaraan roda empat serta keramaian pengunjung di dalamnya. Suasana warung cukup ramai malam itu. Meski begitu, masih ada beberapa bangku kosong sehingga kami tak perlu kebingungan mencari tempat untuk makan.

bu-toha-2.jpg
Warung Bu Toha yang sederhana. (Foto: http://hellosemarang.com)

Menu ayam goreng dan bebek goreng merupakan menu andalan warung ini. Pengunjung tinggal mengambil sendiri bagian dari ayam (kepala, paha, sayap, dada, empela) atau bebek yang diminati, untuk kemudian diserahkan ke pelayanan untuk digoreng. Ayam yang menjadi menu andalan warung ini berasal dari jenis ayam kampung, sehingga terasa lebih gurih dan sedikit kenyal khas ayam kampung. Untuk menu olahan bebeknya menurut saya pribadi tak segurih dengan olahan ayamnya. Mungkin karena memang warung ini spesialisasinya adalah ayam goreng, sehingga olahan bebeknya tak semaksimal olahan ayam gorengnya.

Jpeg
Menu ayam dan bebek Bu Toha. (Foto: http://hellosemarang.com)

Ayam goreng yang sudah kami pesan disajikan bersama nasi putih hangat, sambal bawang, dan juga lalapan. Untuk minuman, warung ini menawarkan jenis yang tidak neko-neko, yaitu es teh manis, teh hangat, es jeruk, dan jeruk hangat. Namun, Anda bisa juga memesan kopi hitam di warung ini.

Ramainya warung malam itu membuat suasana cukup gerah. Beberapa unit kipas angin yang terpasang di beberapa sudutnya, ternyata tak mampu memberikan kesejukan bagi kami karena ramainya warung saat itu.

Itulah sedikit gambaran warung ayam goreng Bu Toha, Tuntang. Jangan lupa sempatkan mamoir bila suatu saat Anda berkunjung ke Semarang dan sekitarnya. Semoga bermanfaat. (Arie Kurniawan)

Advertisements

Icip-Icip Chun Guang Coconut Powder, Minuman Serbuk Kelapa dari Tiongkok

Berkat seorang teman kerja yang membaca review saya tentang Frisian Flag Coconut Delight yang saya posting beberapa waktu lalu, pagi ini saya diberi kesempatan olehnya untuk mencicipi sebuah minuman serbuk kelapa buatan Tiongkok yang ia bawa, yaitu Chun Guang Coconut Powder dalam kemasan sachet 16 gram. Bila di negara kita, mungkin bisa kita samakan dengan brand Nutri Sari yang identik dengan minuman serbuk rasa buah.

cg.jpg
Chun Guang Coconut Powder kemasan besar. (Foto: http://alibaba.com)

Saya pun penasaran dengan rasanya. Berhubung pada kemasan sachetnya, semua tulisan menggunakan aksara han yang notabene tidak saya pahami artinya, maka berbekal intuisi, saya menyeduhnya dengan air dingin dalam gelas kecil, lalu mengaduknya. Benar saja, aroma kelapa langsung menyeruak hidung saya.

Lalu rasanya?

Setelah saya coba seruput, ternyata eh ternyata rasa manis ala Nutri Sari Kelapa yang sudah saya bayangkan sebelumnya tidak saya temukan di sana. Tawar, mirip air perasan kelapa yang kalau ibu-ibu menyebutnya santan. Tak hilang akal, saya pun menambahkan beberapa sendok gula pasir pada minuman tersebut dan mengaduknya. Nah, barulah berangsur rasanya dapat saya terima, meski setelah beberapa waktu timbul rasa sedikit eneg pada perut saya. Barangkali karena belum terbiasa ngokop santen, itulah efek sampingnya. Secara keseluruhan bila saya menilai, minuman ini akan susah diterima oleh masyarakat kita. Dalam artian, bagi masyarakat kita hanya beberapa orang saja yang menyukainya.

O iya, minuman serbuk kelapa ini dibuat oleh Chun Guang, sebuah produsen makanan yang mengkhususkan pada produk-produk yang dibuat dari olahan tumbuhan yang ditanam di Hainan, Tiongkok.

Itulah sepenggal pengalaman saya mencicipi minuman serbuk kelapa dari Negeri Panda. Semoga bermanfaat. (Arie Kurniawan)

Mengenal Perayaan “Tanabata” di Jepang

SETIAP awal bulan Juli, tepatnya tanggal 7, masyarakat Jepang merayakan suatu perayaan yang dirayakan paling meriah di negeri itu, yaitu tanabata. Festival tanabata yang paling ramai biasanya dilakukan di dua tempat, yaitu di Sendai dan Hiratsuka. Pada malam tanggal 7 itu, orang-orang telah mulai menulis harapan-harapan (wishes) mereka yang ditulis dalam kertas warna-warni yang kemudian digantung pada potongan dahan bambu. Kemudian pada malam tanggal 7 itu, mereka membawa dahan bambu itu ke luar rumah atau ke taman mereka.

tanabata.jpg
Kertas warna-warni bertuliskan wishes yang digantung di dahan-dahan bambu. (Foto: http://anime-manga.atresmedia.com)

Sementara ada juga yang berkumpul di taman kota dengan memakai yukata sambil menikmati udara musim panas dan menggantung kertas wishes mereka pada dahan bambu yang ada di sana bersama kertas-kertas milik orang lain. Pemandangan ini amat indah, hampir sama dengan pohon Natal, hanya saja yang ini berlangsung di musim panas. Orang-orang ini biasanya menggunakan malam itu untuk berkumpul bersama teman-teman, menyalakan lentera, bergembira sambil bernyanyi dan bersenda gurau. Kalau sudah begini, semua orang akan berharap agar malam itu cuaca akan cerah dan tidak turun hujan. Setelah lewat malam itu, maka mereka akan menghanyutkan dahan bambu itu ke sungai atau menggunakannya sebagai orang-orangan sawah yang melambangkan tolakan terhadap bala dan kesialan. Bahkan kadang bukan hanya lembaran kertas warna-warni saja yang tergantung di sana namun juga hiasan dalam bentuk lainnya yang masing-masing mempunyai makna tersendiri.

Asal Mula

Kisah tanabata sendiri berasal dari mitologi rakyat Tiongkok. Tanabata pertama kali dibawa ke Japang pada periode Nara (710-784 M). Dan pada era Heien (794-1192 M), tradisi ini menjadi perayaan bagi anak-anak dan para gadis muda dengan harapan mereka semakin pandai dalam hal menjahit, menenun, kaligrafi, dan keterampilan.

Terdapat beberapa versi tentang kisah legenda ini. Sebagian besar mengatakan bahwa kisah tersebut bercerita tentang percintaan antara seorang gembala yang bernama Kengyu (kadang disebut Hikoboshi), dengan bidadari penenun yang tinggal di bintang Vega bernama Shokujo (kadang disebut Orihime). Shokujo merupakan bidadari penenun bagi Kaisar Langit. Dia selalu disibukkan dengan pekerjaannya, sehingga ia tidak memiliki waktu untuk bersantai atau bahkan untuk menenun pakaiannya sendiri. Untuk mengobati kesepiannya dan membalas hasil kerjanya kerasnya, maka Kaisar Langit menikahkannya dengan Kengyu, seorang gembala kerbau yang tinggal di seberang Ama no Kawa (Sungai Langit atau gugusan Bima Sakti).

Tapi seperti halnya manusia, saat mereka jatuh cinta, mereka pun menjadi lupa waktu. Terutama Shokujo yang kemudian menelantarkan pekerjaannya sebagai penenun Kaisar Langit. Karena itu, Kaisar menjadi marah dan ia melarang Shokujo bertemu dengan suaminya. Shokujo kehilangan akal dan hanya bisa menangis setiap hari. Untuk menenangkan Shokujo, maka Kaisar kemudian berjanji memberikan kesempatan pada pasangan ini untuk bertemu sekali dalam setahun, yaitu setiap tanggal 7 pada bulan 7 (Juli), dan peristiwa inilah yang disebut tanabata.

Selain versi tersebut, ada juga yang menyebutkan bahwa setelah Kaisar Langit marah, Kaisar menjadikan mereka berdua menjadi bintang, yaitu Altair dan Vega. Keduanya dilatakkan terpisah dengan Ama no Kawa sebagai pembatasnya. Baru pada setiap tanggal 7 bulan 7 (Juli), Kaisar membuat jembatan untuk memungkinkan keduanya bertemu.

Apapun versi legenda ini, pastinya ada pelajaran yang bisa kita ambil darinya, yaitu agar kita selalu menghargai waktu dan menggunakannya dengan lebih baik. Ada saatnya waktu untuk bekerja, untuk bersantai, dan bahkan waktu untuk seseorang yang kita kasihi ataupun keluarga. Dan jangan sampai, perasaan membuat kita terhanyut dan melupakan tanggung jawab kita.

Happy tanabata! (Arie Kurniawan)

 

Pengalaman Mengganti Kartu ATM Mandiri yang Rusak

SUDAH sekitar sebulan terakhir ini, kartu Debit Mandiri saya retak (ada patahan) di bagian magnetic stripe-nya. Imbasnya adalah di beberapa mesin ATM, kartu saya menjadi tidak terbaca oleh mesin. Selain itu ketika saya pakai untuk bertransaksi di sebuah swalayan di Kota Solo, ternyata mesin EDC yang ada di kasir toko tersebut tidak bisa membaca data kartu saya karena kerusakan kecil tersebut.

Untuk itulah Rabu (21/6) kemarin, saya menyempatkan diri untuk mendatangi sebuah kantor cabang Bank Mandiri yang ada di Jl. Slamet Riyadi, Solo.

atm.jpg
Ilustrasi kartu Debut Mandiri. (Foto: http://infoperbankan.com)

Sebagai persyaratan dalam mengajukan penggantian kartu karena rusak di antaranya adalah kartu ATM lama Anda yang rusak; buku tabungan; menunjukkan Kartu Tanda Penduduk; serta formulir yang telah Anda isi beberapa data tentang diri Anda. Formulir ini disediakan oleh bank yang bersangkutan. Untuk biaya penggantian kartu ATM yang rusak, untuk kartu Debit Mandiri Silver dikenai biaya sebesar Rp15.000 yang dipotongkan dari saldo rekening Anda.

Proses pembuatan kartu baru ini tidak memakan waktu yang lama. Sekitar 15 menitan bahkan bisa kurang. Setelah proses di customer service selesai, Anda akan dipersilakan mengambil amplop yang berisi PIN bawaan kartu ATM baru Anda tersebut. Setelah menerima amplop rahasia tersebut, pergilah ke mesin ATM untuk mengganti PIN bawaan kartu tersebut dengan PIN yang baru sesuai selera Anda. Mudah bukan?

Semoga bermanfaat. (Arie Kurniawan)

Kesan Pertama Icip-Icip Susu Frisian Flag Coconut Delight

SAYA bukanlah pecinta susu. Hanya saja, sewaktu SD dulu, Ibu ‘mengharuskan’ saya untuk minum susu sehabis sarapan. Belakangan, ketenangan jiwa saya terusik sejak melihat sebuah iklan TV tentang susu dengan rasa kelapa muda. Bagi Anda yang sering nongkrong di depan TV, pasti ingat beberapa waktu lalu ada iklan susu yang menampilkan seorang pria sedang minum susu di samping rel kereta di stasiun dan mengucapkan beberapa patah kata yang tidak terdengar jelas. Pemirsa pun disuruh menebak kira-kira apa yang diucapkan pria tersebut. Ingat bukan?

amrazing.jpg
Frisian Flag Coconut Delight. (Foto: Twitter @amrazing)

Skip dan skip, akhirnya setelah beberapa bulan iklan tersebut muncul untuk kali pertama, sore kemarin saya baru berkesempatan mampir ke Indomaret dan membeli satu kotak Frisian Flag Coconut Delight ukuran 225 ml.

Kesan pertama saat meminum susu tersebut lewat sedotan, ingatan saya langsung tertuju pada es krim rasa santan yang biasa saya makan waktu kecil dulu. Entah es krim merek apa saat itu. Ya, saya lebih menangkap citarasa ini sebagai citarasa ‘santan’ yang dicampur susu, bukan air kelapa yang dicampur susu.

Citarasa santan (kelapa) yang ditawarkan susu ini menurut saya manisnya pas sekali. Mungkin hal ini adalah cara aman agar susu ini bisa dicampur dengan minuman cair lain seperti sirup ataupun jus. Susunya sendiri saya rasa juga tidak terlalu dominan. Hanya samar-samar namun tidak mengurangi image-nya sebagai susu.

Kesimpulannya, susu ini merupakan citarasa baru di dunia persusuan di Indonesia. Untuk itu Anda sebaiknya mencoba. Bila Anda kebetulan tidak menyukai susu, tak perlu khawatir, susu dalam varian ini tidak begitu dominan, hanya samar-samar jadi jangan takut akan membuat Anda mual. Cara lain adalah dengan mencampurnya dengan jenis minuman lain seperti jus ataupun sirup. Penasaran rasanya? Silakan mencoba! (Arie Kurniawan)

%d bloggers like this: