Setting Ruang Publik dalam Lagu-Lagu Didi Kempot

ANDA pasti kenal Didi Kempot, maestro campursari yang memiliki kekhasan dalam setiap lagu yang dibawakannya. Karakter suaranya yang cenderung tinggi, membuat Didi Kempot fasih melantunkan lagu-lagu bertema keterasingan, sendu, dan nelangsa. Dan lagu-lagu bertema melankolis tersebutlah yang banyak digandrungi oleh penikmat campursari hingga kini.

kembangtebu.jpg
Lirik Terminal Kertonegoro dalam style meme. (Foto: Dok. pribadi)

Selain tema dan lirik lagu yang kental dengan kehidupan sehari-hari, ada satu keunikan lagi dari kebanyakan lagu yang dibawakan oleh Didi Kempot, yaitu terdapatnya setting ruang publik dalam lagu-lagunya. Sebut saja Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Tanjung Mas Ninggal Janji, Parangtritis, dan yang saat ini sedang banyak digemari oleh penikmat campursari, yaitu Terminal Kertonegoro.

Bila kita cermati dari kesemua setting tempat tersebut, semua adalah ruang publik yang bisa dibilang identik dengan kelas menengah. Satu contoh adalah lagu Stasiun Balapan. Lagu yang melambungkan nama Didi Kempot ini, muncul di sekitar tahun 1990-an, di mana kala itu maskapai penerbangan belum seekonomis sekarang, sehingga pilihan untuk menggunakan kereta api dirasa lebih hemat digunakan untuk menempuh perjalanan jarak jauh.

Selain Stasiun Balapan, kita juga mengenal lagu Terminal Tirtonadi. Setali tiga uang dengan lagu Stasiun Balapan, lagu Terminal Tirtonadi juga mengangkat tema perpisahan yang sedih. Hanya saja, setting tempat kali ini bertempat di terminal Tirtonadi Solo, sebuah tempat yang lagi-lagi identik dengan masyarakat kelas menengah. Begitu juga dengan Tanjung Mas Ninggal Janji, sebuah lagu yang mengisahkan panjangnya penantian di pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.

Selain setting ruang publik yang erat kaitannya dengan sarana transportasi, lagu Parangtritis menampilkan suasana yang berbeda. Lagu ini mengisahkan tentang kenangan di Pantai Parangtritis, sebuah objek wisata pantai di selatan Yogyakarta yang juga merupakan sarana rekreasi murah meriah bagi kaum menengah.

Dan yang terbaru, yang sedang banyak disukai oleh penikmat campursari saat ini, ada lagu Terminal Kertonegoro. Terminal Kertonegoro sendiri terletak di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur yang diresmikan beberapa tahun yang lalu.

Itulah beberapa setting ruang publik yang termuat dalam lagu-lagu Didi Kempot. Hal tersebut saya pandang sebagai keunikan lagu-lagu Didi Kempot dan lagu-lagu campursari pada umumnya. Ya, tak hanya lagu-lagu milik Didi Kempot, banyak pula lagu campursari yang memiliki setting ruang publik mirip lagu–lagu Didi Kempot di atas seperti Wonogiri-nya Bajang Koplak, Terminal Madiun Ngawi-nya Sony Jozz, dan sebagainya.

Secara tidak langsung penyebutan ruang publik dalam karya-karya musik seperti itu mampu menjadi media promosi yang efektif bagi wilayah yang bersangkutan. Semoga. (Arie Kurniawan)

Advertisements

Add your comments!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s