“Jangan Panggil Aku Cina”, FTV Jadul Bernuansa Minang-Tionghoa

MENJELANG perayaan Imlek yang tinggal beberapa minggu lagi, di stasiun-stasiun TV nasional biasanya mulai marak ditayangan film-film televisi yang kental dengan nuansa Tionghoa. Sebut saja beberapa judul seperti Moi I Love You yang dibintangi oleh Raffi Ahmad dan Eva Lauren, Cap Go Meh di Pulau Kemarau, dan sebagainya. Selain dua judul tersebut, ada satu FTV yang menurut saya sangat menarik untuk diikuti, yaitu Jangan Panggil Aku Cina, yang dibintangi oleh Leony VH dan Teddy Syah. FTV tersebut kental sekali dengan unsur budaya Tionghoa dan Minang, dua budaya yang sangat jauh berbeda.

leonyvh.jpg
Leony VH. (Foto: https://pangeran229.wordpress.com)

Jangan Panggil Aku Cina berkisah tentang seorang dokter muda bernama Yusril (Teddy Syah) yang jatuh cinta kepada seorang gadis keturunan Tionghoa bernama Olivia (Leony VH) yang tinggal sebuah kawasan pecinan di kota Padang.

Keluarga Olivia hidup sederhana, ia hidup dengan ibu, nenek, dan seorang kakak laki-laki angkat yang bukan keturunan Tionghoa. Meski keturunan Tionghoa, Olivia sejak kecil sudah bergaul dan membaur dengan orang-orang Minang di lingkungannya, sehingga Olivia merasa dirinya sudah menjadi seorang gadis Minang dan ingin sekali menikah dengan adat Minang. Kakak angkat Olivia, Remon, memiliki tabiat suka berjudi dan gemar mengambil penghasilan keluarga, yaitu hasil penjualan keripik balado yang merupakan satu-satunya usaha keluarga Olivia.

Perkenalan Olivia dan Yusril terjadi di saat dokter muda tersebut dimintai pertolongan oleh anak dari mamak-nya untuk membeli keripik balado di malam hari. Mamak adalah saudara laki-laki dari ibu. Dan kebetulan satu-satunya toko yang masih buka adalah toko milik keluarga Olivia. Dari situlah tumbuh ketertarikan antara keduanya.

Singkat cerita hubungan keduanya pun mendapat tentangan dari keluarga, terutama dari keluarga mamak Yusril yang berniat menjodohkan Yusril dengan salah satu putri dari mamak-nya. Sedangkan dari keluarga Olivia, keluarga Olivia merasa tidak sanggup untuk membayar uang penjemput dikarenakan Yusril adalah orang Pariaman. Uang penjemput adalah uang yang harus diberikan pihak perempuan kepada pihak laki-laki dalam perkawinan adat Minangkabau. Uang penjemput bukanlah untuk membeli, tetapi sebagai penghormatan kepada keluarga mempelai pria yang telah membesarkan mempelai pria tersebut. Semakin tinggi gelar/status sosial mempelai pria, maka biasanya semakin tinggi pula uang penjemput-nya. Uang penjemput merupakan tata cara adat yang dahulu dipakai di seluruh daerah di Sumatra Barat. Namun belakangan, hanya beberapa daerah saja yang masih memakai tata cara tersebut, misalnya Padang dan Pariaman.

Selain memuat dua unsur budaya yang anggun, yaitu Minang dan Tionghoa, FTV ini juga menyuguhkan keindahan alam Sumatra Barat yang memang sudah terkenal. Meski akting para pemainnya tidak begitu maksimal seperti yang kita lihat di film, FTV ini sebenarnya layak ditayangkan kembali di momen menjelang Imlek seperti sekarang ini.

Adapun pesan moral yang bisa saya tangkap dari FTV tersebut adalah pentingnya upaya-upaya dialogis ketika terjadi benturan-benturan dalam masyarakat yang berkaitan dengan budaya. Selain itu, FTV ini juga sedikit meluruskan pemahaman akan uang penjemputan dalam tradisi Minang. Bahwa pada hakikatnya uang penjemput adalah wujud simbolis semata. Mengenai besaran uang penjemputan, ada baiknya ada dialog kekeluargaan antara kedua keluarga. (Arie Kurniawan)

Advertisements

Add your comments!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s