Memecah Konsentrasi Selfie di Kota Solo

PERKEMBANGAN teknologi informasi yang semakin pesat, telah berpengaruh pada sektor-sektor kehidupan manusia termasuk pariwisata. Bila pada beberapa dasawarsa yang lalu kita telah akrab dengan istilah wisata religi, wisata ritual, wisata sejarah, dan sebagainya, maka seiring majunya teknologi informasi dewasa ini memunculkan pula sebuah fenomena, kalau boleh saya istilahkan dengan sebutan wisata selfie. Ya, seiring maraknya penggunaan jejaring sosial di kalangan masyarakat, memunculkan pula sebuah tren berfoto yang belakangan diberi sebutan selfie.

Ada yang menarik dengan perilaku para pecinta selfie ini. Mereka rela menempuh jarak yang relatif jauh hanya untuk mengambil foto dengan latar tempat-tempat yang ikonik, lalu mengunggahnya ke media sosial mereka. Itulah selfie.

Bila dikaitkan dengan situasi sosial-budaya belakangan ini di kota Solo, salah satu spot yang saat ini sedang ramai dan menjadi kiblat sementara bagi peselfie di kota Solo adalah kawasan Pasar Gedhe. Pasalnya sejak sekitar dua minggu yang lalu, kawasan ini dihiasi ratusan lampion sebagai bentuk kemeriahan menyambut tahun baru Imlek. Tak ayal bila malam tiba, kawasan ini selalu penuh dengan para peselfie, bahkan hingga menimbulkan kemacetan. Dan hal tersebut selalu berulang di beberapa tahun terakhir ini.

fotofoto.jpg
Tren berfoto yang belakangan ini semakin marak. (Foto: https://nurannisaa7.wordpress.com)

Selama ini di kota Solo menurut pantauan saya, spotspot selfie tersebut masih terkonsentrasi di beberapa kawasan sentral, seperti Jl. Slamet Riyadi, Gladag, Taman Balai Kambang, Koridor Jensud, hingga Pasar Gede. Padahal bila kita melihat peta wisata kota Solo, ada banyak tempat di kota Solo ini yang sangat berpotensi untuk diangkat namanya lewat sosial media, dengan bantuan para peselfie ini tentunya. Sebut saja kawasan di depan Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti dan Bumi Perkemahan Jurug di ujung timur kota Solo. Di tengah kota ada Monumen Banjarsari yang saat ini sedang dipercantik. Di taman cerdas pada beberapa kecamatan. Di batas kota bagian barat ada Gapura Makutha yang belakangan seolah tenggelam, jarang ada yang berselfie lagi. Dan masih banyak tempat lagi yang bisa diberi sidikit polesan untuk dijadikan lokasi selfie di kota Solo.

Memang tak semudah membalikkan telapak tangan untuk mewujudkan angan-angan di atas. Tetapi yang perlu diingat, kota Solo memiliki banyak insan kreatif yang selalu guyub dalam berbagai kegiatan kreatif dan ini adalah modal besar bagi kota Solo dalam upaya mewujudkan spotspot ikonik  dalam rangka pengaktualisasidirian kota Solo sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia. (Arie Kurniawan)

Advertisements

Add your comments!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s