Sangiran, Jendela Kehidupan Masa Lalu yang Menakjubkan

SANGIRAN, sebuah nama yang sudah tidak asing lagi bagi warga Solo dan sekitarnya. Nama ini identik dengan sebuah objek wisata pengetahuan berupa museum purbakala yang ada di Kecamatan Kalijambe, Kab Sragen, sekitar 17 km di utara Kota Solo

Nama Sangiran sendiri mengacu pada nama situs fosil purbakala yang ada di kawasan tersebut yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO (No. 593, dokumen WHC-96/Conf. 201/21). Menurut penduduk setempat nama sangiran berasal dari kata sangir, yaitu nama sejenis batu yang banyak ditemukan di kawasan tersebut.

Untuk mencapai kawasan museum Sangiran, tidaklah susah. Dari kota Solo Anda hanya tinggal menyusuri jalan Solo–Purwodadi ke arah utara. Baru kemudian mengambil jalur ke timur mengikuti papan penunjuk jalan yang terpasang cukup jelas. Akses jalan menuju museum Sangiran pun sudah terbilang bagus. Dari Solo Anda bisa mencapai kawasan tersebut menggunakan mobil pribadi maupun kendaraan bermotor.

Museum Sangiran terletak di tengah lembah dan pedesaan yang agak tersembunyi dan jauh dari hingar bingar kota, namun siapa sangka, bahwa museum ini menyimpan koleksi purbakala yang luar biasa. Di museum ini Anda dapat melihat sekitar 13.809 koleksi fosil manusia purba yang juga merupakan koleksi terlengkap di Asia. Tak hanya itu, Anda juga akan disuguhi dengan wujud menawan fosil-fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, bebatuan, fosil tumbuhan laut, peralatan manusia purba, dan beberapa jenis hewan lain seperti badak, banteng, rusa, dan kerbau. Tersedia juga ruang audio visual untuk menyaksikan fosil tinggalan kehidupan masa prasejarah di situs Sangiran. Museum Sangiran saat ini telah menjadi sebuah museum yang megah dan modern. Di sini Anda akan dapat melihat dari dekat koleksi fosil manusia purba, binatang yang hidup pada masa lalu, hingga peralatan yang digunakannya.

Museum Sangiran buka setiap hari Selasa s/d Minggu dari jam 08.00-16.00 WIB. Harga tiket terbilang murah, yaitu Rp5.000 untuk wisatawan domestik dan Rp11.500 untuk wisatawan asing. Anda dan rombongan juga bisa menyaksikan film tentang dunia prasejarah, hanya dengan membayar Rp60.000.

Sebagai sebuah objek wisata, sarana dan prasarana pendukung di Sangiran bisa dibilang sudah cukup memadai. Area parkir yang cukup luas, deretan kios yang menjual suvenir khas Sangiran, kantin yang menjajakan aneka makanan dan jajanan, musala, serta toilet terdapat di kawasan wisata ini. Hanya saja yang disayangkan, saat saya berkunjung berapa waktu lalu, di tempat ini belum saya temukan sebuah ATM centre. ATM centre menurut saya cukup penting, sebab layanan publik satu ini berkaitan langsung dengan kebutuhan mendesak para wisatawan di tempat tersebut. Contohnya saya, saat berkunjung ke museum Sangiran beberapa waktu lalu, timbul sebuah niatan untuk membeli beberapa suvenir khas Sangiran. Berhubung saat itu saya tidak membawa cukup uang cash, maka saya urungkan niat untuk berbelanja tersebut. Hal seperti ini tentu akan lain ceritanya bila di kawasan tersebut terdapat ATM centre.

Kita berharap, semoga Museum Sangiran mampu dikelola dengan lebih baik lagi sehingga anak cucu kita nanti tetap akan bisa melihat langsung luar biasanya peninggalan prasejarah di masa lalu. Dan yang terpenting lagi, museum ini mampu menjadi salah satu pusat studi tentang kehidupan prasejarah di Indonesia. Semoga. (Arie Kurniawan)

Advertisements

2 thoughts on “Sangiran, Jendela Kehidupan Masa Lalu yang Menakjubkan”

Add your comments!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s