Mengenal Tradisi Nyadran di Cepogo, Boyolali

MENJELANG Bulan Ramadan, ada banyak sekali tradisi di Indonesia yang masih dipegang oleh masyarakat setempat untuk kemudian dilaksanakan sebagai “syarat” dalam memasuki masa puasa. Salah satu tradisi yang sampai saat ini masih ramai dilaksanakan adalah tradisi nyadran di Boyolali, Jawa Tengah.

Istilah nyadran konon berasal dari bahasa Sansekerta, sraddha yang berarti keyakinan. Secara lebih sederhana, nyadran diartikan sebagai kegiatan membersihkan makam yang dilakukan bersama-sama oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Hindu-Buddha sebelum agama Islam masuk ke tanah Jawa. Setelah Wali Songo menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad ke-15, beliau-beliau kemudian menggabungkan tradisi tersebut dalam dakwahnya. Nyadran kemudian bisa dipahami sebagai sebuah simbolisasi hubungan antara seseorang dengan leluhur, dengan sesama, dan dengan Tuhannya.

Nyadran biasanya dilaksanakan bertepatan dengan datangnya bulan Sya’ban dalam perhitungan kalender Hijriyah atau penanggalan Islam, yang jatuh sebelum datangnya bulan Ramadhan, atau dalam penanggalan Jawa disebut bulan Ruwah.

Di Kecamatan Cepogo di Kab. Boyolali, tradisi nyadran sampai saat ini masih dilangsungkan dengan meriah. Bahkan acara ini memiliki kedudukan yang penting di mata masyarakat Cepogo. Ini ditandai dengan banyaknya warga perantauan yang menyempatkan untuk pulang kampung ketika tradisi nyadran ini digelar. Bagi seorang karyawan, tak sedikit pula yang mengambil cuti di hari pelaksanaan nyadran ini.

Di Cepogo, tradisi nyadran digelar dengan melibatkan seluruh warga yang ada. Tak sedikit warga asli daerah ini yang memanfaatkannya sekaligus untuk bersilaturahim dengan cara saling bertukar makanan.

Ritual nyadran dihadului dengan pembacaan Surat Yasin pada malam harinya, sedangkan pada keesokan harinya setelah subuh, warga melakukan acara bersih-bersih makam. Setelah itu, dilanjutkan dengan kegiatan nyadran. Pada acara nyadran inilah warga membagi-bagikan makanan maupun jajanan pasar kepada para peserta nyadran. Makanan-makanan tersebut dimasukkan pada sebuah wadah dari anyaman bambu berbentuk bulat yang disebut tenong. Setelah ratusan tenong berisi makanan tersebut ditata rapi berjajar, salah satu pemuka agama setempat memimpin pembacaan Tahlil. Selama pembacaan Tahlil tersebut, seluruh warga yang hadir duduk mengitari tenongtenong tersebut. Setelah pembacaan doa, mereka pun membuka satu persatu tenong tersebut dan berebut mengambil makanan serta jajanan di dalamnya.

nyadran.jpg
Tenongtenong berisi makanan dan jajanan. (Foto: https://tempo.co)

Setelah acara selesai warga kemudian melakukan silaturahim dengan kunjung-mengunjungi rumah kerabat dan saudara layaknya Idul Fitri. Maka, tak mengherankan bila banyak kerabat dari luar kota yang menyempatkan diri untuk mudik dan ikut bersilaturahim pada saat acara nyadran ini.

Nyadran di Cepogo Boyolali, selain dapat mempererat tali silaturahim, juga merupakan simbolisasi hubungan antarmanusia, dengan leluhur dan Tuhan Yang Mahakuasa. (Arie Kurniawan)

Advertisements

2 thoughts on “Mengenal Tradisi Nyadran di Cepogo, Boyolali”

Add your comments!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s