Memelihara Burung Puter Kembali

HARI Sabtu (30/7) lalu, saya menambah satu lagi burung piaran saya berupa burung puter (Streptopelia risoria) lokal yang saya ambil dari rumah orang tua saya di Solo. Di rumah orang tua saya di Solo memang ada dua ekor burung puter lokal yang dipelihara oleh Bapak saya. Bapak saya sebenarnya sudah meminta saya untuk membawa kedua burung tersebut ke rumah tinggal saya di Wonogiri. Dan baru kesampaian hari Sabtu kemarin karena satu dan beberapa hal, termasuk ketersediaan sangkar.

puter.JPG
Sepasang burung puter (Foto: Wikipedia)

Sabtu siang burung saya bawa dari Solo menuju Wonogiri dengan box yang terbuat dari kertas yang saya beli di pedagang pakan burung. Awalnya saya berniat mencari box yang terbuat dari kayu triplek, tapi saya tidak berhasil mendapatkannya karena stok habis.

Sebelum membawa burung dalam box dalam perjalanan yang relatif lama seperti yang saya lakukan tersebut, sebaiknya burung kita beri minum dan makan terlebih dahulu. Selain itu perhatikan sirkulasi udara pada box agar burung tetap bisa bernapas dan tidak kepanasan.

Dalam perjalanan dari Solo ke Wonogiri tersebut, saya menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah kios penjual sangkar burung. Tentunya saya membeli sangkar khusus untuk burung puter. Sangkar khusus untuk burung puter biasanya berbentuk bulat dengan ukuran yang standar pas untuk 1 ekor burung. Harganya pun relatif murah. Untuk yang masih mentah (belum dicat) bisa dijual dengan kisaran harga Rp40–50 ribu. Sedangkan untuk yang sudah dicat, harga bisa mencapai Rp70 ribu di daerah saya.

Pakan burung puter adalah biji-bijian, seperti gabah (padi), jagung, beras merah, dan sebagainya. Namun untuk memperoleh kualitas suara yang bagus (tidak serak), salah seorang teman saya yang memang expert di dunia penangkaran burung puter menyarankan agar burung puter diberi beras merah dan milet putih (pakan parkit) saja. Selain itu grit berupa tumbukan batu bata merah juga perlu diberikan untuk membantu proses pencernaan burung.

Pengalaman memelihara burung puter bukan kali pertama ini saja. Sewaktu SD dulu saya pernah memelihara sepasang puter pemberian kenalan keluarga saya yang kemudian beranak-pinak sampai 15-an ekor burung. Kali ini saya memelihara burung puter pada sangkar gantangan karena ingin sebatas menikmati suara merdunya yang menenangkan. Bila sudah menekuni dan berniat untuk melakukan penangkaran, tentunya akan perlu lagi kandang yang lebih besar (kandang umbaran). Semoga bermanfaat, salam. (Arie Kurniawan)

Advertisements

7 thoughts on “Memelihara Burung Puter Kembali”

Add your comments!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s