Memperdalam Ilmu tentang Kesetaraan Gender di Yogyakarta

TANGGAL 11 dan 12 Agustus 2016 kemarin, saya dan belasan teman satu kantor mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam sebuah pelatihan kepenulisan tentang kesetaraan gender bagi penulis dan penerbit yang dilaksanakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta. Pelatihan tersebut bertujuan memberikan pemahaman yang lebih tentang isu-isu kesetaraan gender bagi kami selaku pelaku penerbitan, terutama penulis dan editor. Dengan harapan melalui pelatihan tersebut, penulis dan editor sebagai pelaku penerbitan dapat menjadi agen perubahan untuk mengkapanyekan kesetaraan gender di dalam buku-buku yang nantinya akan kami tulis  dan terbitkan.

innagaruda.jpg
Foto bersama peserta, pemateri, dan panitia. (Foto: Dok. Umi Azzura)

Isu tentang kesetaraan gender dewasa ini memang menjadi sebuah isu yang cukup mendapat sorotan. Sejak PBB mengadakan sidang tahun 1957 yang kemudian menghasilkan resolusi tentang partisipasi perempuan dalam pembangunan, isu kesetaraan gender menjadi isu global yang kian banyak diperjuangkan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Pelatihan tentang kepenulisan kesetaraan gender  ini, untuk saya pribadi cukup memberikaan pencerahan tersendiri. Isu keteraan gender sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi saya, mengingat di awal kuliah dulu, sebagai mahasiswa jurusan Sosiologi, saya pernah mendapat beberapa mata kuliah yang berkaitan erat dengan isu kesetaraan gender, salah satunya adalah mata kuliah Analisis Gender.

Dalam pelatihan tersebut, dihadirkan pemateri yang cukup mumpuni di bidangnya, yaitu Dra. Ida Rosidah, MA (peneliti dan sosiolog dari UIN Syarif Hudayatullah Jakarta), Iklilah Muzzayanah, M.Si. (peneliti sekaligus dosen dari Prodi Kajian Gender UI), serta H. Wawan Djunaedi, MA (Kabid Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag RI).  Sepanjang acara selama dua hari tersebut, proses transfer pengetahuan, diskusi, dan presentasi berjalan cukup menarik. Karakter para peserta yang cukup bervariasi pada acara tersebut, justru memberikan hiburan dan kesan tersendiri kepada kami.

Di ujung pelatihan, kami secara kelompok mendapat tugas untuk menganalisis beberapa buku pelajaran dari berbagai penerbit yang telah dibagikan kepada kami. Hasil temuan kami dalam buku-buku yang kami analisis tersebut, ternyata masih banyak konten buku yang menjurus kepada bias gender. Baik itu pada materi teksnya, ilustrasinya, maupun pada soal-soal yang ditampilkannya. Inilah yang nantinya menjadi tugas kami sebagai pelaku penerbitan untuk mengubah kualitas naskah seperti itu menjadi naskah yang respons terhadap isu-isu kesetaraan gender (responsif gender).

Bila selama ini fokus perhatian kami sebagai pelaku penerbitan cenderung hanya kepada isu-isu SARA, maka setelah mendapat pelatihan tersebut, wajar bila kemudian timbul perhatian kami terhadap isu-isu kesetaraan gender pada setiap buku yang akan kami terbitkan nantinya. Semoga pelatihan ini menjadi sesuatu yang dapat memberikan manfaat untuk kami dan lingkungan sosial kami. Semoga. (Arie Kurniawan)

Advertisements

10 thoughts on “Memperdalam Ilmu tentang Kesetaraan Gender di Yogyakarta”

Add your comments!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s