Keramahan yang Hilang di Bundaran Baron, Solo

ADA yang beda pada kawasan Bundaran Baron Kota Solo beberapa bulan terakhir ini. Bundaran di tengah perpotongan Jl. Bhayangkara dan Jl. Dr. Radjiman yang selama ini menjadi landmark simpang empat tersebut telah dibongkar. Kawasan tersebut nampak lebih lapang memang, sehingga lalu lintas sedikit lebih lancar. Dan barangkali itulah alasan mengapa bundaran tersebut dibongkar.

Pagi ini (2/11), Dishub Solo telah memberlakukan simulasi pengoperasian traffic light di simpang empat tersebut. Saat pagi tadi saya melintas, garis-garis putih sementara yang difungsikan sebagai stop line telah ditempatkan di ruas-ruas jalan yang menghadap ke simpang empat tersebut. Kendaraan pun berhenti rapi menunggu lampu hijau menyala.

Di tengah perubahan-perubahan yang terjadi pada Bundaran Baron tersebut, saya merasakan ada sesuatu yang hilang di sana. Ya, keramahan para Supeltas yang selalu terlihat siaga di simpang empat tersebut sebelumnya, saat ini telah digantikan oleh tiang-tiang kukuh penopang lampu lalu lintas di keempat penjurunya. Memang terlihat lebih modern yang dan serba otomatis. Namun, rasa akrab dan bersahabat sudah tidak saya temukan di sana.

Supeltas.jpg
Pak Kartolo, Supeltas ramah yang dahulu biasa bertugas di Bundaran Baron sebelum digantikan oleh traffic light. (Foto: https://sendiridanrahasia.blogspot.com)

Tulisan ini bukanlah bentuk ketidaksetujuan saya akan kebijakan penghilangan Bundaran Baron tersebut. Saya percaya pihak berwenang, dalam hal ini Dishub Solo telah melakukan kajian mendalam berkaitan dengan keberadaan traffic light baru tersebut. Hanya saja lewat tulisan ini, saya ingin sampaikan bahwa ada hal-hal dari sifat manusia yang tidak bisa diberikan/ditiru oleh sebuah perangkat elektronik (mesin). Seperti contoh rasa akrab, rasa bersahabat, dan ketulusan yang pernah diberikan oleh para Supeltas Baron ini.

Saya berharap semoga rasa akrab dan bersahabat khas para Supeltas seperti yang pernah ada di Bundaran Baron tersebut masih bisa saya temukan di persimpangan-persimpangan lain di Kota Solo. Ada banyak persimpangan kecil nan padat di Kota Solo yang tidak bisa begitu saja diberi traffic light. Dan di situlah semoga saya masih bisa menemukan keramahan Supeltas Solo yang khas. Semoga. (Arie Kurniawan)

Advertisements

8 thoughts on “Keramahan yang Hilang di Bundaran Baron, Solo”

      1. Iya. Isih akeh kok persimpangan ning Solo sing butuh Supeltas, soale dalan-dalan cilik ning Solo saiki wis padet. Mungkin diroling ning endi ngono. Yen ora yo mungkin mung mengkoordinasi kanca-kancane…

        Liked by 1 person

Add your comments!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s