Prinsip Pertukaran dalam “Telolet”

FENOMENA klakson “telolet” telah menyita perhatian banyak pihak. Dari artis, politisi, sampai Presiden Jokowi pun turut berkomentar mengenai “telolet”. Seperti yang ditulis oleh republika.co.id pada artikelnya tanggal 23 Desember kemarin, Presiden Jokowi berpendapat bahwa “telolet” adalah bentuk kebahagiaan dan hiburan bagi rakyat. Sah-sah saja menurut beliau, hanya saja perlu juga memperhatikan keselamatan dan kenyamanan di jalan.

Klakson “telolet” bagi kalangan bismania (baca: penyuka bis yang sering berkomunikasi di dunia maya) bukanlah hal yang baru. Sejak beberapa tahun silam klakson nonreguler ini telah dipakai oleh beberapa armada bus di Indonesia sebagai daya tariknya. Fenomena aktivitas hunting foto-foto bus beserta klaksonnya pun bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai seorang yang diam-diam mengamati perilaku ‘bismania’ ini, aktivitas memfoto dan merekam “telolet” bus sudah saya temui sekitar 1-3 tahun silam di area Terminal Krisak, Wonogiri yang kebetulan tak jauh dari tempat tinggal saya. Hanya saja saat itu belum seheboh dan seviral sekarang ini.

Wahyu Nugroho, sosiolog Universitas Udayana Bali, dalam sebuah artikelnya menyoroti fenomena telolet ini sebagai sebuah kelangkaan. Ya, karena tidak semua bus memiliki “telolet” dan tidak semua sopir bus mau memberikan “telolet”-nya pada anak-anak ini. Hal inilah yang menjadikan “telolet” ini menarik dan berharga di mata anak-anak pemburu telolet.

Selain itu masih menurut Wahyu Nugroho, dalam “telolet” ada prinsip pertukaran. Anak-anak akan menuai kebahagiaan di saat sang sopir (untuk selanjutnya saya sebut driver) memberikan “telolet”-nya, sedangkan sang driver akan mendapatkan respect dari anak-anak tersebut karena sudah mau membagi “telolet”-nya. Dalam hal ini, profesi seorang driver bus juga turut terangkat paling tidak di mata anak-anak ini.

Sekitar dua dekade silam, profesi seorang driver bus di masyarakat kita barangkali masih dianggap sebagai profesi yang terpinggirkan (meski penghasilan mereka juga tidak sedikit). Berkat fenomena “telolet” belakangan ini, disadari atau tidak, turut mengangkat status driver-driver bus ini di tengah masyarakat. Dan inilah yang kita harapkan. Sebuah stereotype cenderung buruk yang selama ini melekat, terkikis habis seiring dengan berkembangnya hobi suka bis beserta seluk beluknya termasuk “telolet” ini. Bagi perusahaan otobus yang bersangkutan, tentu hal ini bisa dijadikan motivasi tersendiri untuk meningkatkan kualitas pelayanan armadanya-armadanya. Inovasi harus terus dilakukan bila ingin memenangkan persaingan. Tak dimungkiri, itulah fenomena nyata yang ada di tengah masyarakat kita. Dan semoga selalu saja ada pelajaran yang menyertainya.

Semoga bermanfaat! (Arie Kurniawan)

om.png
(Foto: https://indowarta.com)
Advertisements

4 thoughts on “Prinsip Pertukaran dalam “Telolet””

Add your comments!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s