Category Archives: Lingkungan

Indahnya Gerbang Tol Salatiga dengan Gunung Merbabu yang Menjadi Latarnya

BEBERAPA hari ini gerbang tol Salatiga (tepatnya di Seksi III Bawen–Salatiga) menjadi perbincangan hangat para netizen. Pasalnya, gerbang tol tersebut memiliki pemandangan alam yang sangat mempesona. Seperti yang bisa Anda lihat di foto yang sedang menjadi viral akhir-akhir ini, gerbang tol tersebut berlatar belakang Gunung Merbabu yang menjulang.

tol.PNG
Gerbang tol Salatiga dengan latar Gunung Merbabu yang menjulang. (Foto: Instagram @dwisaputro)

Hal tersebut dibenarkan oleh Manajer Operasional PT Trans Marga Jateng (TMJ), selaku pengelola jalan tol Semarang–Solo, Fauzi Abdul Rahman. Kepada Kompas.Com ia mengatakan latar belakang pemandangan gerbang tol Salatiga memang lebih bagus dengan keberadaan Gunung Merbabu. Fauzi menambahkan bahwa memang tol Semarang–Solo dibangun dengan kondisi lingkungan yang masih asri sehingga di beberapa lokasi akan bisa dijumpai pemandangan sawah, lembah, dan pegunungan yang menawan. Penasaran ingin melewatinya? (Arie Kurniawan)

tol
Gerbang tol Salatiga dilihat dari udara. (Foto: Bina Marga Jateng)
tol1
Gerbang tol Salatiga. (Foto: Detik.Com)

Memelihara Pleci (Lagi)

DI RUMAH, kebetulan ada sebuah sangkar burung berukuran kecil yang nganggur, alias kosong tak terpakai. Sangkar tersebut pernah saya pakai untuk memelihara burung perci/pleci (Zosterops palpebrosus) sekitar setahun yang lalu yang kemudian akhirnya mati di tangan predator, entah cicak atau tokek di rumah. Nah, daripada menganggur tak terpakai, timbullah niat saya untuk mengisinya kembali dengan seekor peliharaan. Maka pilihan saya jatuhkan pada burung pleci. Sama dengan sedia kala. Alasannya, selain karena kondisi kandang yang memang berukuran kecil, burung pleci yang sudah terbiasa makan voer, tergolong mudah dalam hal perawatan. Mengingat hampir setiap hari saya ngantor dari pagi hingga sore, maka burung pleci saya rasa cocok untuk saya pelihara.

pleci
Burung kacamata/pleci. (Foto: https://situsburung.com)

Hunting burung pleci pun saya lakukan dengan sambil lalu. Setiap ada kesempatan, saya mencoba memantau di beberapa kios penjual burung yang tak jauh dari tempat tinggal saya. Namun hasilnya belum sesuai dengan yang saya harapkan. Ini tentunya berkaitan dengan estimasi biaya yang saya anggarkan. Akhirnya pekan kemarin di sela-sela istirahat kerja, saya sempatkan mlipir ke Taman Pasar Burung Depok Solo yang memang tak jauh dari tempat kerja saya. Kios yang saya tuju adalah kios di luar pasar yang sudah biasa saya datangi. Setelah mencoba melihat-lihat, akhirnya saya ditawari seekor burung pleci oleh bapak penjualnya yang sudah saya kenal. Harga yang ditawarkan untuk kualitas pleci seperti itu masih standar, yaitu Rp100.000. Setelah terjadi tawar menawar, akhirnya tersepakati harga sekitar 70% dari harga semula.

Burung pleci pernah menjadi tren tersendiri di kalangan kicaumania beberapa tahun silam. Dan kini popularitas pleci sedikit menurun. Meski begitu pleci masih mempunyai penggemar sendiri yang membuat harganya masih terbilang tinggi. Semoga pleci saya ini mampu menjadi hiburan tersendiri untuk saya. Salam plecimania! (Arie Kurniawan)

Memelihara Burung Puter Kembali

HARI Sabtu (30/7) lalu, saya menambah satu lagi burung piaran saya berupa burung puter (Streptopelia risoria) lokal yang saya ambil dari rumah orang tua saya di Solo. Di rumah orang tua saya di Solo memang ada dua ekor burung puter lokal yang dipelihara oleh Bapak saya. Bapak saya sebenarnya sudah meminta saya untuk membawa kedua burung tersebut ke rumah tinggal saya di Wonogiri. Dan baru kesampaian hari Sabtu kemarin karena satu dan beberapa hal, termasuk ketersediaan sangkar.

puter.JPG
Sepasang burung puter (Foto: Wikipedia)

Sabtu siang burung saya bawa dari Solo menuju Wonogiri dengan box yang terbuat dari kertas yang saya beli di pedagang pakan burung. Awalnya saya berniat mencari box yang terbuat dari kayu triplek, tapi saya tidak berhasil mendapatkannya karena stok habis.

Sebelum membawa burung dalam box dalam perjalanan yang relatif lama seperti yang saya lakukan tersebut, sebaiknya burung kita beri minum dan makan terlebih dahulu. Selain itu perhatikan sirkulasi udara pada box agar burung tetap bisa bernapas dan tidak kepanasan.

Dalam perjalanan dari Solo ke Wonogiri tersebut, saya menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah kios penjual sangkar burung. Tentunya saya membeli sangkar khusus untuk burung puter. Sangkar khusus untuk burung puter biasanya berbentuk bulat dengan ukuran yang standar pas untuk 1 ekor burung. Harganya pun relatif murah. Untuk yang masih mentah (belum dicat) bisa dijual dengan kisaran harga Rp40–50 ribu. Sedangkan untuk yang sudah dicat, harga bisa mencapai Rp70 ribu di daerah saya.

Pakan burung puter adalah biji-bijian, seperti gabah (padi), jagung, beras merah, dan sebagainya. Namun untuk memperoleh kualitas suara yang bagus (tidak serak), salah seorang teman saya yang memang expert di dunia penangkaran burung puter menyarankan agar burung puter diberi beras merah dan milet putih (pakan parkit) saja. Selain itu grit berupa tumbukan batu bata merah juga perlu diberikan untuk membantu proses pencernaan burung.

Pengalaman memelihara burung puter bukan kali pertama ini saja. Sewaktu SD dulu saya pernah memelihara sepasang puter pemberian kenalan keluarga saya yang kemudian beranak-pinak sampai 15-an ekor burung. Kali ini saya memelihara burung puter pada sangkar gantangan karena ingin sebatas menikmati suara merdunya yang menenangkan. Bila sudah menekuni dan berniat untuk melakukan penangkaran, tentunya akan perlu lagi kandang yang lebih besar (kandang umbaran). Semoga bermanfaat, salam. (Arie Kurniawan)

Sepenggal Sore di Waduk Tandon, Selogiri

MINGGU (17/4) sore kemarin mumpung ada waktu luang saya niatkan untuk mengunjungi sebuah waduk yang tak begitu jauh dari tempat saya tinggal. Sebelumnya saya belum pernah berkunjung ke waduk tersebut. Berbekal petunjuk dari Google Maps dan informasi beberapa warga yang saya temui di jalan, akhirnya saya sampai juga di Waduk Tandon yang letaknya hanya 10 menit perjalanan dari Terminal Giri Adipura Krisak, Selogiri, Wonogiri.

Waduk Tandon dibangung di atas Desa Tandon pada tahun 40-an oleh Pemerintah Jepang. Warga yang saat itu terkena relokasi, hingga saat ini menempati dusun di sebelah timur waduk.

Cuaca Minggu sore kemarin sangat cerah, sehingga lokasi waduk cukup ramai oleh pengunjung. Ada yang memancing, sekadar duduk-duduk dan berfoto, juga menikmati beberapa jajanan ringan yang dijajakan di warung tak jauh dari waduk.

Beberapa waktu lalu, tercatat beberapa kali waduk ini meluap sehingga menyebabkan banjir di desa-desa di bawahnya. Melihat panorama waduk yang cukup indah, sudah sepantasnya bila dinas terkait menangkap hal ini sebagai potensi wisata tersendiri, sehingga manfaat dari sisi kepariwisataan dapat digali secara maksimal. Dan berikut beberapa foto yang sempat saya ambil dengan kamera ponsel ala kadarnya milik saya. (Arie Kurniawan)

Bendungan Colo, Tempat Ngehits untuk Menikmati Sore di Sukoharjo

TAK lengkap rasanya bila menulis tentang Telaga Claket namun tidak menulis tentang Bendungan Colo. Dua tempat ngehits di kalangan remaja Sukoharjo dan Wonogiri ini memang terletak di kabupaten yang berbeda. Namun letaknya yang berdekatan, membuat Bandungan Colo dan Telaga Claket serasa satu paket.

colo1.jpg
Bendungan Colo. (Foto: Instagram @potretskh)

Bendungan Colo terletak di Desa Pengkol, Kecamatan Nguter, Kab. Sukoharjo. Bendungan ini membendung Sungai Bengawan Solo yang notabene menjadi batas wilayah administratif Kabupaten Sukoharjo dengan Kabupaten Wonogiri. Konstruksi bendungannya yang cukup ikonik membuat kawasan ini ramai dipakai berfoto oleh anak gaul dari wilayah sekitar. Kawasan bendungan ini akan ramai bila sore menjelang. Banyak remaja yang menikmati suasana sore di bendungan ini sembari menikmati jajanan ringan yang banyak dijajakan oleh pedagang di kawasan tersebut.

Besarnya animo warga sekitar yang berkunjung menikmati sore di bendungan ini seharusnya ditangkap sebagai peluang oleh pemerintah setempat serta dinas terkait untuk mengembangkan potensi daerahnya. Semisal dengan pembangunan shelter pedagang, penataan kawasan sekitar, dan sebagainya. Tentunya hal tersebut perlu komitmen dan keseriusan dari pemerintah setempat yang didukung warganya. (Arie Kurniawan)