Category Archives: Pariwisata

Inilah Rangkaian Acara Gebyar Hari Jadi Wonogiri Ke-276

TANGGAL 19 Mei mendatang, Kabupaten Wonogiri akan genap berusia 276 tahun. Tentunya banyak acara menarik yang telah disiapkan pemkab terkait guna memperingati dan memeriahkan event tahunan ini. Dan berikut adalah rangkaian acara perayaan HUT Kabupaten Wonogiri yang dirilis oleh Humas Pemkab Wonogiri beberapa waktu lalu. Silakan disimak dan dicatat, barangkali Anda tertarik menikmati langsung acara-acara yang digelar. Sukses! (Arie Kurniawan)

harjadwonogiri2017.jpg

 Klik di sini untuk gambar dengan resolusi lebih besar.

Advertisements

Tingkatkan Solidaritas dan Kinerja, PT Tiga Serangkai Gelar Outing Bertema “Synergy for Excellence”

DALAM rangka meningkatkan solidaritas, keakraban, dan kinerja karyawan, Sabtu 21 Januari 2016 lalu, PT Tiga Serangkai, Solo mengadakan acara outing yang bertempat di kawasan wisata Pantai Sepanjang, Kab. Gunung Kidul, Yogyakarta. Acara yang diberi tema Synergy for Excellence ini diikuti oleh 200 orang lebih karyawan kantor pusat Tiga Serangkai, Solo. Menggunakan lima buah bus pariwisata KM Trans asal Karanganyar, rombongan berangkat dari kantor pusat Tiga Serangkai, di Jl. Dr. Supomo No. 23 Solo sekitar jam 6 pagi.

Para peserta yang berjumlah sekitar 230-an orang tersebut telah dibagi ke dalam beberapa kelompok, di mana setiap kelompok beranggotakan sekitar 20 sampai 23 orang. Kelompok-kelompok yang telah terbentuk itulah yang akan melakukan kegiatan outing dalam rangka meningkatkan keakraban dan kerja sama antarkaryawan demi sebuah sinergi untuk kemajuan perusahaan.

Perjalanan ke kawasan wisata Pantai Sepanjang, Gunung Kidul ditempuh sekitar hampir 3 jam perjalanan. Perjalanan dari Kota Solo menuju arah Kab. Sukoharjo, kemudian melintas ke arah barat dan selatan menuju perbatasan Jawa Tengah dan DIY. Mengingat hari itu adalah hari Sabtu, lalu lintas sepanjang perjalanan pun relatif ramai. Uniknya, di sisi-sisi jalan di mana kami melintas, banyak kami temui kerumunan anak-anak pemburu klakson telolet bus berharap sang driver memberikan klakson telolet-nya. Dan benar saja, kebetulan driver bus yang saya tumpangi (KM Trans Pariwisata 04) tergolong driver yang tidak pelit, sehingga tak jarang di sepanjang perjalanan, telolet menggema dari bus yang saya tumpangi.

Akhirnya rombongan sampai juga di kawasan wisata Pantai Sepanjang. Sebelum memasuki kawasan pantai, terdapat sebuah signage besar di sisi jalan yang menjadi penanda kawasan Pantai Sepanjang. Setelah melakukan beberapa persiapan, rombongan pun berkumpul di sebuah lapangan pasir seluas kira-kira setengah lapangan bola untuk melakukan acara pembukaan outing.

Pembukaan acara outing diisi dengan beberapa sambutan. Salah satu sambutan datang dari Master Navigator acara outing, yaitu Hari Sumarsono. Dalam sambutannya ditekankan pentingnya bersinergi dalam menghadapi tantangan global perusahaan yang semakin hari semakin besar. Diharapkan melalui acara ini, PT Tiga Serangkai mampu bersaing di tengah tantangan global, terutama di dunia percetakan dan penerbitan yang merupakan dunia yang digeluti PT Tiga Serangkai selama ini.

Acara outing sendiri diisi dengan berbagai perlombaan. Lomba-lomba yang diperlombakan bukanlah sekadar lomba. Lomba-lomba yang dilombakan ini, bila dicermati menyimpan nilai-nilai positif yang sangat berguna bagi karyawan secara individu maupun karyawan secara kolektif. Berbagai perlombaan inilah yang menjadi sarana transfer nilai-nilai positif tersebut dalam rangka mewujudkan target perusahaan yang belakangan dicanangkan, yaitu menjadi nomor 1. Maka cukup tepat bila tema Synergy for Excellence menjadi tema pelaksanaan outing kali ini.

Di akhir acara, ada pengumuman juara lomba yang digelar di bibir Pantai Sepanjang. Cuaca yang sangat cerah di sepanjang hari itu menambah semangat dan greget tersendiri bagi peserta outing. Dalam penutupannya, kembali Master Navigator acara, Hari Sumarsono menekankan bahwa  sinergi yang positif antarkaryawan, bila diikuti dengan eksekusi yang penuh perhitungan akan menciptakan sebuah karya yang unggul.

Semoga gelaran outing Tiga Serangkai Solo kali ini memang benar-benar mampu merekatkan kembali solidaritas karyawan Tiga Serangkai setelah beberapa lama tidak melakukan kegiatan serupa. Solidaritas akan memunculkan sinergi positif yang dibarengi dengan eksekusi brilian, dan terwujudlah karya-karya Tiga Serangkai yang unggul. Semoga! (Arie Kurniawan)

Berikut rekaman keseruan acara outing Tiga Serangkai Synergy for Excellence hasil jepretan tim dokumentasi Tiga Serangkai dan dokumentasi beberapa peserta.

Selamat Datang Pendamping “Jaladara”

SETELAH menempuh perjalanan lebih kurang 4 hari (sejak 13/11), pagi tadi lokomotif uap calon pendamping kereta wisata Jaladara tiba di Stasiun Solobalapan, Solo. Lokomotif bernomor seri D52099 ini didatangkan dari Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta dan nantinya akan menjalankan tugas mengantar wisatawan bergantian dengan loko Jaladara.

img-20161117-wa0009
Lokomotif D52099 tiba di Solobalapan. (Foto: Taqoballah Ridho)

Kedatangan loko uap sepanjang 14 meter ini akan menambah ikon wisata Kota Solo. Sejarah mencatat, loko ini pernah dipakai sebagai rangkaian kereta khusus Presiden dan Wakil Presiden di era Soekarno.

Kita tunggu saja, bagaimana kiprah loko uap ini di Kota Solo. Semoga hal ini semakin mengukuhkan Kota Solo sebagai kota budaya. Amin. (Arie Kurniawan)

Pengalaman Berkereta dengan Railbus Batara Kresna

SENIN (12/09) kemarin bertepatan dengan libur Hari Raya Kurban, saya beserta istri, tanpa rencana sebelumnya mendadak timbul niatan untuk menjajal Railbus Batara Kresna yang sudah lebih dari setahun ini beroperasi di jalur Purwosari–Sukoharjo–Wonogiri. Tentunya kami mengajak juga putra kami, Erlangga yang sudah sekitar 5 bulan terakhir ini sangat mengemari kereta api.

pasarnguter6
Railbus Batara Kresna singgah di Stasiun Pasarnguter. (Foto: Dok. pribadi)

Hal pertama yang kami lakukan tentu saja adalah membeli tiket. Kebetulan tak jauh dari tempat tinggal saya ada satu stasiun yang juga dilalui oleh Railbus Batara Kresna, yaitu Stasiun Pasarnguter di Kec. Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Harga tiket Batara Kresna untuk sekali jalan sangatlah terjangkau, yaitu hanya Rp4.000. Sedikit lebih murah dibanding tiket odong-odong ataupun kereta kelinci yang selama ini sering kita jumpai. Bagi anak usia di bawah 3 tahun, belum dikenai biaya untuk tiket. Tiket Railbus Batara Kresna dapat dibeli hari itu juga maksimal tiga jam sebelum pemberangkatan di stasiun-stasiun yang dilewatinya.

Kebetulan hari itu sudah cukup siang, jadi untuk sampai ke Stasiun Purwosari dari Stasiun Pasarnguter, kami harus ikut pada pemberangkatan jam 12.43 WIB yang masuk dalam pemberangkatan siang. Sekadar info, Railbus Batara Kresna dalam satu hari melakukan dua kali perjalanan Purwosari–Wonogiri PP, yaitu pada jam 06.00 WIB dari Purwosari dan akan sampai di Stasiun Wonogiri jam 07.45 WIB, kemudian akan kembali ke Purwosari lagi. Untuk pemberangkatan siang, Batara Kresna akan kembali berangkat dari Purwosari jam 10.00 WIB dan akan sampai di Stasiun Wonogiri jam 11.45 WIB, kemudian akan kembali lagi ke Purwosari.

Jam 12.43 WIB, Batara Kresna yang kami tunggu pun datang dari arah Wonogiri. Setelah beberapa staf stasiun melakukan persiapan dengan memasang dua buah tangga besi, mulailah para penumpang naik. Dalam tiket tidak ada pencantuman tempat duduk dan gerbong, jadi Anda bebas memilih gerbong mana saja yang longgar. Persis bila kita naik bus umum.

Perjalanan dari Stasiun Pasarnguter menuju Stasiun Purwosari ditempuh dalam waktu satu jam lebih. Kecepatan railbus memang cenderung pelan mengingat di kiri kanan jalur Purwosari–Wonogiri adalah permukiman yang padat, selain itu masih banyak perlintasan yang tidak ada pintu palangnya. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat variatif. Dari Stasiun Pasarnguter hingga Stasiun Solokota (Sangkrah) kita akan disuguhi pemandangan persawahan yang elok dengan beberapa sungai yang harus diseberangi. Sedangkan dari Stasiun Solokota hingga Stasiun Purwosari, mata kita akan dimanjakan dengan suasana ramai khas Kota Solo menyusuri sebagian ruas Jalan Slamet Riyadi. Benar-benar wisata lokal yang murah meriah.

Anda yang belum pernah mencoba berwisata dengan moda transposrtasi satu ini, saya sarankan untuk sesekali mencobanya. Anda yang tinggal di Kota Solo, bisa mencoba berwisata ke Wonogiri dengan menumpang railbus ini. Dan sebaliknya, Anda yang tinggal di Wonogiri atau Sukoharjo, bisa sesekali dolan ke Solo menggunakan moda transportasi ini. Silakan mencoba! (Arie Kurniawan)

 

Mengenal Tradisi Nyadran di Cepogo, Boyolali

MENJELANG Bulan Ramadan, ada banyak sekali tradisi di Indonesia yang masih dipegang oleh masyarakat setempat untuk kemudian dilaksanakan sebagai “syarat” dalam memasuki masa puasa. Salah satu tradisi yang sampai saat ini masih ramai dilaksanakan adalah tradisi nyadran di Boyolali, Jawa Tengah.

Istilah nyadran konon berasal dari bahasa Sansekerta, sraddha yang berarti keyakinan. Secara lebih sederhana, nyadran diartikan sebagai kegiatan membersihkan makam yang dilakukan bersama-sama oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Hindu-Buddha sebelum agama Islam masuk ke tanah Jawa. Setelah Wali Songo menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad ke-15, beliau-beliau kemudian menggabungkan tradisi tersebut dalam dakwahnya. Nyadran kemudian bisa dipahami sebagai sebuah simbolisasi hubungan antara seseorang dengan leluhur, dengan sesama, dan dengan Tuhannya.

Nyadran biasanya dilaksanakan bertepatan dengan datangnya bulan Sya’ban dalam perhitungan kalender Hijriyah atau penanggalan Islam, yang jatuh sebelum datangnya bulan Ramadhan, atau dalam penanggalan Jawa disebut bulan Ruwah.

Di Kecamatan Cepogo di Kab. Boyolali, tradisi nyadran sampai saat ini masih dilangsungkan dengan meriah. Bahkan acara ini memiliki kedudukan yang penting di mata masyarakat Cepogo. Ini ditandai dengan banyaknya warga perantauan yang menyempatkan untuk pulang kampung ketika tradisi nyadran ini digelar. Bagi seorang karyawan, tak sedikit pula yang mengambil cuti di hari pelaksanaan nyadran ini.

Di Cepogo, tradisi nyadran digelar dengan melibatkan seluruh warga yang ada. Tak sedikit warga asli daerah ini yang memanfaatkannya sekaligus untuk bersilaturahim dengan cara saling bertukar makanan.

Ritual nyadran dihadului dengan pembacaan Surat Yasin pada malam harinya, sedangkan pada keesokan harinya setelah subuh, warga melakukan acara bersih-bersih makam. Setelah itu, dilanjutkan dengan kegiatan nyadran. Pada acara nyadran inilah warga membagi-bagikan makanan maupun jajanan pasar kepada para peserta nyadran. Makanan-makanan tersebut dimasukkan pada sebuah wadah dari anyaman bambu berbentuk bulat yang disebut tenong. Setelah ratusan tenong berisi makanan tersebut ditata rapi berjajar, salah satu pemuka agama setempat memimpin pembacaan Tahlil. Selama pembacaan Tahlil tersebut, seluruh warga yang hadir duduk mengitari tenongtenong tersebut. Setelah pembacaan doa, mereka pun membuka satu persatu tenong tersebut dan berebut mengambil makanan serta jajanan di dalamnya.

nyadran.jpg
Tenongtenong berisi makanan dan jajanan. (Foto: https://tempo.co)

Setelah acara selesai warga kemudian melakukan silaturahim dengan kunjung-mengunjungi rumah kerabat dan saudara layaknya Idul Fitri. Maka, tak mengherankan bila banyak kerabat dari luar kota yang menyempatkan diri untuk mudik dan ikut bersilaturahim pada saat acara nyadran ini.

Nyadran di Cepogo Boyolali, selain dapat mempererat tali silaturahim, juga merupakan simbolisasi hubungan antarmanusia, dengan leluhur dan Tuhan Yang Mahakuasa. (Arie Kurniawan)