Category Archives: Sosial Budaya

Asal Usul Nastar dan Kastengel, Hidangan Wajib Hari Lebaran

TANPA terasa bulan Ramadan sudah hampir setengahnya kita lalui. Berbagai aktivitas untuk menyambut lebaran pun sudah mulai dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Mulai dari memilih-milih pakaian untuk dipakai di hari lebaran, sampai pada aktivitas membuat sendiri kue-kue yang nantinya akan dihidangkan di hari lebaran. Memang pada masyarakat kita, lebaran identik dengan berbagai macam hidangan dan makanan di sela-sela suasana hangat antaranggota keluarga.

nastar.jpg
Kue nastar. (Foto: http://mangcook.com)

Di antara aneka hidangan lebaran tersebut, barangkali kue nastar dan kastengel-lah yang paling populer dan paling sering disediakan di rumah-rumah yang merayakan lebaran. Nastar adalah sejenis kue kering yang terbuat dari adonan tepung, mentega, dan telur yang diisi dengan selai buah nanas. Nastar berasal dari kata Belanda, ananas dan tart. Kue ini berbentuk bulat-bulat berdiameter sekitar 2 cm, dan di atasnya sering dihiasi dengan potongan kecil kismis atau cengkih. Di era kini, nastar telah dimodifikasi dengan selai dari buah-buahan lain, seperti strowberi, bluberi, dan sebagainya. Nastar biasa dijual dalam kemasan toples plastik di toko-toko kue atau swalayan.

Tak jauh berbeda dengan nastar, kastengel juga merupakan kue yang cukup populer di dalam perayaan lebaran. Kue ini dibuat dengan dipanggang menggunakan oven. Bentuknya sebesar jari dengan panjang sekitar 5 cm. Bahan pembuatnya pun mirip dengan nastar, hanya saja adonan kastengel menggunakan keju (akan lebih baik bila menggunakan keju tua dari Belanda).

Kastengel berasal dari kata Belanda kaas yang berarti keju dan stengels yang berarti batangan. Oleh karena itu disebut kaasstengels atau batangan keju dan sekarang dikenal dengan kastengel. Melihat dari asal katanya, barangkali resep kue-kue tersebut mulanya dibawa oleh orang-orang Belanda yang pernah menjajah negara kita, hingga kemudian mengalami penyesuaian dengan selera masyarakat lokal Indonesia.

Sudahkah Anda mempersiapkan keperluan lebaran Anda berasama keluarga? (Arie Kurniawan)

Inilah Rangkaian Acara Gebyar Hari Jadi Wonogiri Ke-276

TANGGAL 19 Mei mendatang, Kabupaten Wonogiri akan genap berusia 276 tahun. Tentunya banyak acara menarik yang telah disiapkan pemkab terkait guna memperingati dan memeriahkan event tahunan ini. Dan berikut adalah rangkaian acara perayaan HUT Kabupaten Wonogiri yang dirilis oleh Humas Pemkab Wonogiri beberapa waktu lalu. Silakan disimak dan dicatat, barangkali Anda tertarik menikmati langsung acara-acara yang digelar. Sukses! (Arie Kurniawan)

harjadwonogiri2017.jpg

 Klik di sini untuk gambar dengan resolusi lebih besar.

Prinsip Pertukaran dalam “Telolet”

FENOMENA klakson “telolet” telah menyita perhatian banyak pihak. Dari artis, politisi, sampai Presiden Jokowi pun turut berkomentar mengenai “telolet”. Seperti yang ditulis oleh republika.co.id pada artikelnya tanggal 23 Desember kemarin, Presiden Jokowi berpendapat bahwa “telolet” adalah bentuk kebahagiaan dan hiburan bagi rakyat. Sah-sah saja menurut beliau, hanya saja perlu juga memperhatikan keselamatan dan kenyamanan di jalan.

Klakson “telolet” bagi kalangan bismania (baca: penyuka bis yang sering berkomunikasi di dunia maya) bukanlah hal yang baru. Sejak beberapa tahun silam klakson nonreguler ini telah dipakai oleh beberapa armada bus di Indonesia sebagai daya tariknya. Fenomena aktivitas hunting foto-foto bus beserta klaksonnya pun bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai seorang yang diam-diam mengamati perilaku ‘bismania’ ini, aktivitas memfoto dan merekam “telolet” bus sudah saya temui sekitar 1-3 tahun silam di area Terminal Krisak, Wonogiri yang kebetulan tak jauh dari tempat tinggal saya. Hanya saja saat itu belum seheboh dan seviral sekarang ini.

Wahyu Nugroho, sosiolog Universitas Udayana Bali, dalam sebuah artikelnya menyoroti fenomena telolet ini sebagai sebuah kelangkaan. Ya, karena tidak semua bus memiliki “telolet” dan tidak semua sopir bus mau memberikan “telolet”-nya pada anak-anak ini. Hal inilah yang menjadikan “telolet” ini menarik dan berharga di mata anak-anak pemburu telolet.

Selain itu masih menurut Wahyu Nugroho, dalam “telolet” ada prinsip pertukaran. Anak-anak akan menuai kebahagiaan di saat sang sopir (untuk selanjutnya saya sebut driver) memberikan “telolet”-nya, sedangkan sang driver akan mendapatkan respect dari anak-anak tersebut karena sudah mau membagi “telolet”-nya. Dalam hal ini, profesi seorang driver bus juga turut terangkat paling tidak di mata anak-anak ini.

Sekitar dua dekade silam, profesi seorang driver bus di masyarakat kita barangkali masih dianggap sebagai profesi yang terpinggirkan (meski penghasilan mereka juga tidak sedikit). Berkat fenomena “telolet” belakangan ini, disadari atau tidak, turut mengangkat status driver-driver bus ini di tengah masyarakat. Dan inilah yang kita harapkan. Sebuah stereotype cenderung buruk yang selama ini melekat, terkikis habis seiring dengan berkembangnya hobi suka bis beserta seluk beluknya termasuk “telolet” ini. Bagi perusahaan otobus yang bersangkutan, tentu hal ini bisa dijadikan motivasi tersendiri untuk meningkatkan kualitas pelayanan armadanya-armadanya. Inovasi harus terus dilakukan bila ingin memenangkan persaingan. Tak dimungkiri, itulah fenomena nyata yang ada di tengah masyarakat kita. Dan semoga selalu saja ada pelajaran yang menyertainya.

Semoga bermanfaat! (Arie Kurniawan)

om.png
(Foto: https://indowarta.com)

Senam Gemu Fa Mi Re dan Rasa Nasionalisme Kita

BEBERAPA hari terakhir ini, perhatian publik di departemen di perusahaan tempat saya bekerja tertuju pada sebuah gelaran lomba senam yang akan diadakan pada Jumat 16 Desember 2016 pekan depan. Sebuah lomba yang digelar untuk memeriahkan ultah ke-58 perusahaan tempat saya bekerja. Panitia pun memilih senam Gemu Fa Mi Re sebagai tema utama dalam lomba kali ini. Seperti kita tahu, sekitar setahun belakangan, senam Gemu Fa Mi Re telah menjadi idola di kalangan pegiat senam, baik di kantor-kantor ataupun instansi-instansi pemerintah. Bahkan pada Februari 2015 silam, sebuah kelompok kebudayaan  bernama Flabamora Group pernah menampilkan senam ini di acara Canberra Mulcultural Festival di Australia.

gemufamire.jpg
Senam Gemu Fa Mi Re yang dilakukan oleh para Jalasenastri. (Foto: https://inspiratifnews.com)

Senam Gemu Fa Mi Re sendiri identik dengan sebuah lagu dengan judul yang sama, yaitu Gemu Fa Mi Re yang berasal dari Maumere, NTT. Lagu tersebut diciptakan oleh seorang musisi asal Sikka bernama Frans Cornelis Dian Bunda atau yang lebih akrab disapa Nyong Franco.

Fenonema senam dengan iringan lagu daerah juga pernah terjadi di tahun 2000-an. Saat itu senam Poco-Poco mendadak menjadi sebuah fenomena yang digandrungi oleh banyak kalangan. Yopie Latul, penyanyi asal Maluku, mempopulerkan lagu Poco-Poco dengan suguhan goyangan yang enerjik hingga menjadi salah satu ‘senam wajib’ di kantor-kantor ataupun instansi-instansi pemerintahan saat itu.

Booming-nya senam Poco-Poco ataupun Gemu Fa Mi Re adalah contoh, ternyata masih ada rasa nasionalisme di kalangan kita. Perasaan gembira saat menarikan gerakan-gerakan senam tersebut akan bertambah greget bila juga diiringi dengan rasa ingin tahu kita mengenal lebih jauh latar belakang lagu-lagu daerah tersebut. Tak hanya untuk Poco-Poco ataupun Gemu Fa Mi Re, melainkan juga banyak lagu-lagu daerah populer yang lain yang ada di Indonesia.

Salam Indonesia! (Arie Kurniawan)

Sepenggal Cerita Ciu Bekonang

INDONESIA memang negara yang sangat kaya budaya dan tradisi. Dari pakaian, rumah adat, upacara tradisional, sampai ke urusan makan dan minum. Banyak daerah di Indonesia yang mempunyai minuman tradisional dengan ciri khas masing-masing yang sangat lekat dengan budaya setempat, baik itu yang mangandung alkohol maupun nonalkohol. Dan salah satu yang cukup dikenal oleh masyarakat luas adalah minuman beralkohol jenis ciu dari Bekonang, sebuah dusun yang terletak di sebelah timur laut Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Ciu berbeda dengan arak, walaupun mempunyai cara fermentasi yang hampir sama. Ciu berbahan dasar tetes tebu, sedangkan arak berasal dari beragam sari buah yang difermentasikan.

Sejarah munculnya industri ciu Bekonang tidak lepas dari budaya mabuk dalam kehidupan masyarakat Jawa, terutama Surakarta. Aktivitas pesta miras ternyata sudah lama berkembang di bumi Nusantara. Dalam sebuah naskah kuno Negarakertagama yang ditulis pada zaman keemasan Majapahit, diketahui bahwa minuman keras pada masa itu selalu menjadi bagian dari perjamuan agung di kraton-kraton. Marbangun Hardjowirogo dalam buku yang berjudul Manusia Jawa (1984) memberi keterangan singkat bahwa Solo di tahun 1920-an sudah bisa menghasilkan jenewer yang merupakan penjawaan dari kata Belanda, jenever, di sebuah daerah di seberang selatan Bengawan Solo, yaitu Bekonang.

ciu.jpg
Salah satu tahap dalam proses pembuatan ciu. (Foto: Kaskus)

Kemunculan ciu Bekonang berkaitan erat dengan berdirinya pabrik gula Tasikmadu di Karanganyar yang kala itu merupakan aset penting Pura Mangkunegaran, Solo. Dari pemrosesan tetes tebu yang sedemikian rupa, terciptalah air memabukkan khas Bekonang yang disebut ciu. Saat itu, pembuatan ciu dikerjakan secara sembunyi-sembunyi walau kadar alkoholnya masih rendah. Awalnya, alkohol diproduksi untuk minuman keras dan mabuk-mabukan. Ini akibat pengaruh hegemoni kraton yang kerap mempunyai gelaran acara pesta panen raya maupun penyambutan tamu kerajaan dengan mengadakan pesta dan tarian tradisional seperti tayub. Diriwayatkan oleh Triknopranoto dalam Sejarah Kutha Sala, bahwa tempo dulu setiap ada acara tayuban, kerap terjadi tawuran, sebab mereka yang berjoget sering lepas kontrol karena kelebihan menenggak ciu. Sehingga wajar apabila muncul konotasi buruk mengenai kehidupan kraton dan priyayi di mata Belanda kala itu.

Distrik Bekonang sempat pula menjadi sasaran operasi Belanda. Razia yang digelar lima tahunan (1920–1925) melibatkan pamong setempat sebagai mata-mata. Saking semangatnya mengintai sasaran, para mata-mata ini sering tidak akurat dalam memberikan informasi dengan melaporkan pembuat tape singkong sebagai “produsen arak gelap”. Seiring bertambahnya waktu, ciu Bekonang pun kian populer karena sudah mempunyai pasar serta pelanggan yang tetap.  Di era 50-an hingga 80-an, bila Anda menyusuri Jl. Ciu, sebuah jalan di daerah Bekonang, Anda akan banyak menjumpai warung-warung yang menghidangkan ciu dengan aneka rasa.

Dari hasil riset Arif Widodo (2004), pada tahun 1945 perajin industri rumah tangga ciu Bekonang hanya berjumlah 20-an orang dan hasil produksinya kurang lebih hanya 10 liter per hari. Antara tahun 1961-1964, industri alkohol sudah mulai ada kemajuan, yaitu ada peningkatan kadar alkohol dari 27% menjadi 37% dengan peralatan yang juga masih sangat sederhana. Kini, alkohol telah dipasarkan mencapai hampir ke seluruh wilayah Karesidenan Surakarta, Surabaya, Kediri, dan lain-lain. Dampaknya, taraf hidup masyarakat Bekonang pun meningkat karena dapat bermobilisasi secara horizontal maupun vertikal. (Arie Kurniawan)