Category Archives: Sosial Budaya

Mengenal Perayaan “Tanabata” di Jepang

SETIAP awal bulan Juli, tepatnya tanggal 7, masyarakat Jepang merayakan suatu perayaan yang dirayakan paling meriah di negeri itu, yaitu tanabata. Festival tanabata yang paling ramai biasanya dilakukan di dua tempat, yaitu di Sendai dan Hiratsuka. Pada malam tanggal 7 itu, orang-orang telah mulai menulis harapan-harapan (wishes) mereka yang ditulis dalam kertas warna-warni yang kemudian digantung pada potongan dahan bambu. Kemudian pada malam tanggal 7 itu, mereka membawa dahan bambu itu ke luar rumah atau ke taman mereka.

tanabata.jpg
Kertas warna-warni bertuliskan wishes yang digantung di dahan-dahan bambu. (Foto: http://anime-manga.atresmedia.com)

Sementara ada juga yang berkumpul di taman kota dengan memakai yukata sambil menikmati udara musim panas dan menggantung kertas wishes mereka pada dahan bambu yang ada di sana bersama kertas-kertas milik orang lain. Pemandangan ini amat indah, hampir sama dengan pohon Natal, hanya saja yang ini berlangsung di musim panas. Orang-orang ini biasanya menggunakan malam itu untuk berkumpul bersama teman-teman, menyalakan lentera, bergembira sambil bernyanyi dan bersenda gurau. Kalau sudah begini, semua orang akan berharap agar malam itu cuaca akan cerah dan tidak turun hujan. Setelah lewat malam itu, maka mereka akan menghanyutkan dahan bambu itu ke sungai atau menggunakannya sebagai orang-orangan sawah yang melambangkan tolakan terhadap bala dan kesialan. Bahkan kadang bukan hanya lembaran kertas warna-warni saja yang tergantung di sana namun juga hiasan dalam bentuk lainnya yang masing-masing mempunyai makna tersendiri.

Asal Mula

Kisah tanabata sendiri berasal dari mitologi rakyat Tiongkok. Tanabata pertama kali dibawa ke Japang pada periode Nara (710-784 M). Dan pada era Heien (794-1192 M), tradisi ini menjadi perayaan bagi anak-anak dan para gadis muda dengan harapan mereka semakin pandai dalam hal menjahit, menenun, kaligrafi, dan keterampilan.

Terdapat beberapa versi tentang kisah legenda ini. Sebagian besar mengatakan bahwa kisah tersebut bercerita tentang percintaan antara seorang gembala yang bernama Kengyu (kadang disebut Hikoboshi), dengan bidadari penenun yang tinggal di bintang Vega bernama Shokujo (kadang disebut Orihime). Shokujo merupakan bidadari penenun bagi Kaisar Langit. Dia selalu disibukkan dengan pekerjaannya, sehingga ia tidak memiliki waktu untuk bersantai atau bahkan untuk menenun pakaiannya sendiri. Untuk mengobati kesepiannya dan membalas hasil kerjanya kerasnya, maka Kaisar Langit menikahkannya dengan Kengyu, seorang gembala kerbau yang tinggal di seberang Ama no Kawa (Sungai Langit atau gugusan Bima Sakti).

Tapi seperti halnya manusia, saat mereka jatuh cinta, mereka pun menjadi lupa waktu. Terutama Shokujo yang kemudian menelantarkan pekerjaannya sebagai penenun Kaisar Langit. Karena itu, Kaisar menjadi marah dan ia melarang Shokujo bertemu dengan suaminya. Shokujo kehilangan akal dan hanya bisa menangis setiap hari. Untuk menenangkan Shokujo, maka Kaisar kemudian berjanji memberikan kesempatan pada pasangan ini untuk bertemu sekali dalam setahun, yaitu setiap tanggal 7 pada bulan 7 (Juli), dan peristiwa inilah yang disebut tanabata.

Selain versi tersebut, ada juga yang menyebutkan bahwa setelah Kaisar Langit marah, Kaisar menjadikan mereka berdua menjadi bintang, yaitu Altair dan Vega. Keduanya dilatakkan terpisah dengan Ama no Kawa sebagai pembatasnya. Baru pada setiap tanggal 7 bulan 7 (Juli), Kaisar membuat jembatan untuk memungkinkan keduanya bertemu.

Apapun versi legenda ini, pastinya ada pelajaran yang bisa kita ambil darinya, yaitu agar kita selalu menghargai waktu dan menggunakannya dengan lebih baik. Ada saatnya waktu untuk bekerja, untuk bersantai, dan bahkan waktu untuk seseorang yang kita kasihi ataupun keluarga. Dan jangan sampai, perasaan membuat kita terhanyut dan melupakan tanggung jawab kita.

Happy tanabata! (Arie Kurniawan)

 

Advertisements

Asal Usul Nastar dan Kastengel, Hidangan Wajib Hari Lebaran

TANPA terasa bulan Ramadan sudah hampir setengahnya kita lalui. Berbagai aktivitas untuk menyambut lebaran pun sudah mulai dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Mulai dari memilih-milih pakaian untuk dipakai di hari lebaran, sampai pada aktivitas membuat sendiri kue-kue yang nantinya akan dihidangkan di hari lebaran. Memang pada masyarakat kita, lebaran identik dengan berbagai macam hidangan dan makanan di sela-sela suasana hangat antaranggota keluarga.

nastar.jpg
Kue nastar. (Foto: http://mangcook.com)

Di antara aneka hidangan lebaran tersebut, barangkali kue nastar dan kastengel-lah yang paling populer dan paling sering disediakan di rumah-rumah yang merayakan lebaran. Nastar adalah sejenis kue kering yang terbuat dari adonan tepung, mentega, dan telur yang diisi dengan selai buah nanas. Nastar berasal dari kata Belanda, ananas dan tart. Kue ini berbentuk bulat-bulat berdiameter sekitar 2 cm, dan di atasnya sering dihiasi dengan potongan kecil kismis atau cengkih. Di era kini, nastar telah dimodifikasi dengan selai dari buah-buahan lain, seperti strowberi, bluberi, dan sebagainya. Nastar biasa dijual dalam kemasan toples plastik di toko-toko kue atau swalayan.

Tak jauh berbeda dengan nastar, kastengel juga merupakan kue yang cukup populer di dalam perayaan lebaran. Kue ini dibuat dengan dipanggang menggunakan oven. Bentuknya sebesar jari dengan panjang sekitar 5 cm. Bahan pembuatnya pun mirip dengan nastar, hanya saja adonan kastengel menggunakan keju (akan lebih baik bila menggunakan keju tua dari Belanda).

Kastengel berasal dari kata Belanda kaas yang berarti keju dan stengels yang berarti batangan. Oleh karena itu disebut kaasstengels atau batangan keju dan sekarang dikenal dengan kastengel. Melihat dari asal katanya, barangkali resep kue-kue tersebut mulanya dibawa oleh orang-orang Belanda yang pernah menjajah negara kita, hingga kemudian mengalami penyesuaian dengan selera masyarakat lokal Indonesia.

Sudahkah Anda mempersiapkan keperluan lebaran Anda berasama keluarga? (Arie Kurniawan)

Inilah Rangkaian Acara Gebyar Hari Jadi Wonogiri Ke-276

TANGGAL 19 Mei mendatang, Kabupaten Wonogiri akan genap berusia 276 tahun. Tentunya banyak acara menarik yang telah disiapkan pemkab terkait guna memperingati dan memeriahkan event tahunan ini. Dan berikut adalah rangkaian acara perayaan HUT Kabupaten Wonogiri yang dirilis oleh Humas Pemkab Wonogiri beberapa waktu lalu. Silakan disimak dan dicatat, barangkali Anda tertarik menikmati langsung acara-acara yang digelar. Sukses! (Arie Kurniawan)

harjadwonogiri2017.jpg

 Klik di sini untuk gambar dengan resolusi lebih besar.

Prinsip Pertukaran dalam “Telolet”

FENOMENA klakson “telolet” telah menyita perhatian banyak pihak. Dari artis, politisi, sampai Presiden Jokowi pun turut berkomentar mengenai “telolet”. Seperti yang ditulis oleh republika.co.id pada artikelnya tanggal 23 Desember kemarin, Presiden Jokowi berpendapat bahwa “telolet” adalah bentuk kebahagiaan dan hiburan bagi rakyat. Sah-sah saja menurut beliau, hanya saja perlu juga memperhatikan keselamatan dan kenyamanan di jalan.

Klakson “telolet” bagi kalangan bismania (baca: penyuka bis yang sering berkomunikasi di dunia maya) bukanlah hal yang baru. Sejak beberapa tahun silam klakson nonreguler ini telah dipakai oleh beberapa armada bus di Indonesia sebagai daya tariknya. Fenomena aktivitas hunting foto-foto bus beserta klaksonnya pun bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai seorang yang diam-diam mengamati perilaku ‘bismania’ ini, aktivitas memfoto dan merekam “telolet” bus sudah saya temui sekitar 1-3 tahun silam di area Terminal Krisak, Wonogiri yang kebetulan tak jauh dari tempat tinggal saya. Hanya saja saat itu belum seheboh dan seviral sekarang ini.

Wahyu Nugroho, sosiolog Universitas Udayana Bali, dalam sebuah artikelnya menyoroti fenomena telolet ini sebagai sebuah kelangkaan. Ya, karena tidak semua bus memiliki “telolet” dan tidak semua sopir bus mau memberikan “telolet”-nya pada anak-anak ini. Hal inilah yang menjadikan “telolet” ini menarik dan berharga di mata anak-anak pemburu telolet.

Selain itu masih menurut Wahyu Nugroho, dalam “telolet” ada prinsip pertukaran. Anak-anak akan menuai kebahagiaan di saat sang sopir (untuk selanjutnya saya sebut driver) memberikan “telolet”-nya, sedangkan sang driver akan mendapatkan respect dari anak-anak tersebut karena sudah mau membagi “telolet”-nya. Dalam hal ini, profesi seorang driver bus juga turut terangkat paling tidak di mata anak-anak ini.

Sekitar dua dekade silam, profesi seorang driver bus di masyarakat kita barangkali masih dianggap sebagai profesi yang terpinggirkan (meski penghasilan mereka juga tidak sedikit). Berkat fenomena “telolet” belakangan ini, disadari atau tidak, turut mengangkat status driver-driver bus ini di tengah masyarakat. Dan inilah yang kita harapkan. Sebuah stereotype cenderung buruk yang selama ini melekat, terkikis habis seiring dengan berkembangnya hobi suka bis beserta seluk beluknya termasuk “telolet” ini. Bagi perusahaan otobus yang bersangkutan, tentu hal ini bisa dijadikan motivasi tersendiri untuk meningkatkan kualitas pelayanan armadanya-armadanya. Inovasi harus terus dilakukan bila ingin memenangkan persaingan. Tak dimungkiri, itulah fenomena nyata yang ada di tengah masyarakat kita. Dan semoga selalu saja ada pelajaran yang menyertainya.

Semoga bermanfaat! (Arie Kurniawan)

om.png
(Foto: https://indowarta.com)

Senam Gemu Fa Mi Re dan Rasa Nasionalisme Kita

BEBERAPA hari terakhir ini, perhatian publik di departemen di perusahaan tempat saya bekerja tertuju pada sebuah gelaran lomba senam yang akan diadakan pada Jumat 16 Desember 2016 pekan depan. Sebuah lomba yang digelar untuk memeriahkan ultah ke-58 perusahaan tempat saya bekerja. Panitia pun memilih senam Gemu Fa Mi Re sebagai tema utama dalam lomba kali ini. Seperti kita tahu, sekitar setahun belakangan, senam Gemu Fa Mi Re telah menjadi idola di kalangan pegiat senam, baik di kantor-kantor ataupun instansi-instansi pemerintah. Bahkan pada Februari 2015 silam, sebuah kelompok kebudayaan  bernama Flabamora Group pernah menampilkan senam ini di acara Canberra Mulcultural Festival di Australia.

gemufamire.jpg
Senam Gemu Fa Mi Re yang dilakukan oleh para Jalasenastri. (Foto: https://inspiratifnews.com)

Senam Gemu Fa Mi Re sendiri identik dengan sebuah lagu dengan judul yang sama, yaitu Gemu Fa Mi Re yang berasal dari Maumere, NTT. Lagu tersebut diciptakan oleh seorang musisi asal Sikka bernama Frans Cornelis Dian Bunda atau yang lebih akrab disapa Nyong Franco.

Fenonema senam dengan iringan lagu daerah juga pernah terjadi di tahun 2000-an. Saat itu senam Poco-Poco mendadak menjadi sebuah fenomena yang digandrungi oleh banyak kalangan. Yopie Latul, penyanyi asal Maluku, mempopulerkan lagu Poco-Poco dengan suguhan goyangan yang enerjik hingga menjadi salah satu ‘senam wajib’ di kantor-kantor ataupun instansi-instansi pemerintahan saat itu.

Booming-nya senam Poco-Poco ataupun Gemu Fa Mi Re adalah contoh, ternyata masih ada rasa nasionalisme di kalangan kita. Perasaan gembira saat menarikan gerakan-gerakan senam tersebut akan bertambah greget bila juga diiringi dengan rasa ingin tahu kita mengenal lebih jauh latar belakang lagu-lagu daerah tersebut. Tak hanya untuk Poco-Poco ataupun Gemu Fa Mi Re, melainkan juga banyak lagu-lagu daerah populer yang lain yang ada di Indonesia.

Salam Indonesia! (Arie Kurniawan)