Share Pengalaman Servis Shockbreaker Motor

SELAMA sekian tahun menjadi penglaju, tercatat sudah beberapa kali saya menserviskan shockbreaker motor yang saya pakai, terutama shockbreaker depan. Tiga kali di bengkel umum dan 2 kali di bengkel khusus shockbreaker. Dari pengalaman menserviskan shockbreaker tersebut, ketidakpuasan selalu muncul saat saya menserviskan shockbreaker di bengkel umum.

shockbreaker.jpg
Ilustrasi servis shockbreaker. (Foto: https://xtramotor.wordpress.com)

Beberapa minggu yang lalu, saya baru saja mengganti seal dan oli shokbreaker depan Supra X saya. Nah selang dua minggu, di luar dugaan saya mendapati salah satu shockbreaker depan Supra X saya tersebut kembali bocor dan olinya merembes keluar. Karena sudah tidak yakin lagi untuk menserviskannya ke bengkel umum, maka hari Minggu (20/9) kemarin saya meluncur ke bengkel shockbreaker yang tidak jauh dari rumah. Dan pilihan jatuh pada bengkel Yoko Skok, yang berada komplek pertokoan sebelah utara SPBU Kepuh, Nguter, Sukoharjo.

Ini bukan kali pertama saya menserviskan shockbreaker ke Yoko Skok, sebab sekitar 2 tahun yang lalu saya pernah menserviskan shockbreaker depan Supra Fit saya di bengkel tersebut. Dan hasilnya masih awet sampai sekarang. Kepada Sang Mekanik, saya ceritakan pengalaman menservis saya di bengkel umum yang selalu berakhir dengan ketidakpuasan. Menurut dia, kualitas seal-lah yang menentukan. Jarang sekali ada bengkel umum yang menyediakan seal shockbreaker dengan kualitas terbaik, sehingga bila ada seseorang yang menserviskan shockbreaker maka dipakailah seal yang berkualitas biasa (bukan orisinil). Benar saja, setelah saya cek di nota pembayaran bengkel beberapa waktu lalu, tercatat harga seal yang hanya Rp8.000 per biji. Sedangkan di bengkel Yoko ini seal shock depan untuk Supra X harganya Rp25.000 satu buah. Coba bandingkan!

Dari pengalaman saya tersebut bisa diambil pelajaran bahwa untuk urusan servis shockbreaker (terutama depan), kualitas seal harus benar-benar diperhatikan. Ada baiknya Anda menyerahkan urusan servis ini pada bengkel khusus shokbreaker atau bengkel resmi/dealer langganan Anda. Atau Anda bisa membeli sendiri seal di AHASS/dealer, baru kemudian menyerahkan pengerjaannya pada bengkel umum langganan. Sekian, semoga bermanfaat. (Arie Kurniawan)

Polres Sukoharjo Rutin Gelar Razia

DALAM kurun waktu sekitar sebulan ini, seingat saya sudah empat kali saya mendapati razia kendaraan bermotor di jalan yang biasa saya lewati saat berangkat kerja. Tepatnya ada di dua titik, yaitu di kawasan Kepuh dan Solo Baru, kedianya di kawasan Sukoharjo. Di kawasan Kepuh, razia diadakan di pelataran ruko yang terletak sekitar 200 meter arah utara SPBU Kepuh, sedangkan di Solo Baru razia digelar di depan ruko Solo Baru sebelah utara patung Pandawa.

memerazia
Ilustrasi razia polisi dalam sebuah meme. (Foto: https://biarkanbergulir.wordpress.com)

Sepertinya Polres Sukoharjo memang sedang gencar melaksanakan razia kendaraan bermotor. Hal tersebut terlihat dari seringnya Polres Sukoharjo menggelar razia. Hari dan tempat pelaksanaan razia pun kalau saya bilang cukup mudah diprediksi. Menurut pengalaman, razia ini dilakukan setiap hari Rabu pagi dengan bertempat di dua lokasi yang saya sebutkan di atas.

Bagi Anda yang sehari-hari melintas di dua titik tersebut pasti sudah bukan pemandangan yang asing, paling tidak dalam kurun waktu 1-2 bulan ini. Namun bagi Anda yang tidak biasa melintas di lokasi tersebut, namun bisa saja sewaktu-waktu dihadapkan pada kondisi di mana Anda harus melintasi kawasan tersebut, semoga informasi ini bisa menjadikan periksa. (Arie Kurniawan)

Bertahun-Tahun, Traffic Light Belakang UNS Diacuhkan Pengguna Jalan

trafficlight
Ilustrasi traffic light. (Foto: https://funnyjunk.com)

PRIHATIN rasanya melihat traffic light di belakang kampus UNS Solo yang kerap diacuhkan para pengguna jalan. Ya, sejak dipasang beberapa tahun silam sampai detik ini, menurut pengamatan saya, traffic light di perempatan Mapakan, kawasan gerbang belakang UNS tersebut tidak efektif dalam mengatur lalu lintas di perempatan tersebut. Pasalnya, sebagian besar pengguna jalan tidak menaati traffic light tersebut. Hanya ada beberapa pengguna jalan yang kebanyakan, menurut pantauan penulis adalah mobil berpelat luar Solo. Memang sangat ironis, sementara kawasan tersebut adalah kawasan hunian para mahasiswa yang notabene berpendidikan. Dengan adanya fenomena tersebut, sudah cukup membuktikan bahwa tingkat kedisiplinan seseorang tidak ada kaitannya dengan tingkat pendidikan. Jadi, sampai kapan traffic light tersebut mau dilanggar? (Arie Kurniawan)

%d bloggers like this: